Kompleksitas Budaya dan Renesans Indonesia

Diskusi seri ke-2 Kompleksitas yang diselenggarakan Freedom Institute dan Bandung Fe Institute, mengambil tema “Kompleksitas Budaya dan Renesans Indonesia”. Diskusi yang dipimpin oleh moderator Nirwan A. Arsuka ini diawali dengan pemaparan bertajuk “Menjelaskan Kemajuan/Kekuatan Bangsa-bangsa” oleh I Gde Raka, seorang guru budaya dan manajemen inovasi yang pernah menjabat Kepala Pusat Penelitian Teknologi Institut Teknologi Bandung, dilanjutkan dengan paparan berjudul “Dari Kompleksitas Budaya Tradisi Ke Renesans Indonesia” oleh Hokky Situngkir, Presiden Bandung Fe Institute.

Dalam pemaparannya, I Gde Raka menyoroti perspektif yang sangat sederhana dari Jared Diamond (berdasarkan bukunya yang berjudul “Guns, Germs, and Steel: The Fates of Human Societies,”   terbit tahun 1997), bagaimana bangsa-bangsa Eropa bisa maju dan menaklukkan Amerika dan Australia oleh dukungan (kebetulan, accidental) dari biogeografi yang cocok dengan pola domestikasi yang dilakukan, yang pada gilirannya memungkinkan perkembangan teknologi dan politiknya. Dalam buku itu, sebagaimana disoroti oleh I Gde Raka, Diamond menunjukkan bahwasanya “penaklukan” Eropa atas Amerika dan Australia semata-mata tak dikarenakan oleh dukungan gen mereka, namun juga oleh germs (kuman, penyakit) mereka (dalam hal ini cacar).

Paparan ini dikaitkan pula dengan pandangan Eduard Spranger tentang dimensi-dimensi nilai pada suatu masyarakat: dimensi teoretis (terkait pencarian nilai kebenaran), dimensi ekonomi (terkait nilai kegunaan), dimensi estetis (terkait nilai atas bentuk dan harmoni), dimensi sosial (terkait nilai berlandas kasih sayang pada orang lain), dimensi politik (terkait nilai kekuasaan), dan dimensi keagamaan (nilai totalitas spiritual). Menurut I Gde Raka, kita perlu melakukan “pemetaan “ keenam dimensi ini dalam melihat kehidupan masyarakat kita relatif dengan bangsa-bangsa lain, sebelum kita pada akhirnya bisa mencapai rumusan akan kebangkitan budaya bangsa, atau “renesans” sebagaimana dibawakan sebagai tajuk diskusi. Yang jelas, mengutip Lawrence E. Harrison, bagi I Gde Raka, “underdevelopment is a state of mind”.

Pemaparan ini disambut oleh Hokky Situngkir dengan menunjuk pada 3 titik yang mungkin seolah tak berhubungan, namun jika kita mampu menggambarkan sebuah bangun atas ketiga titik tersebut, maka renesans bukanlah hal yang mustahil.

Titik pertama, yang disoroti adalah keadaan krisis epistemologis dalam perjalanan kesejarahan kecendekiaan Eropa. Di sini ditunjukkan secara sekilas bagaimana peradaban Eropa yang mendominasi dunia ini sebenarnya berjalan “tertatih-tatih” dalam evolusinya. Ia beberapa kali tergelincir bahkan semenjak zaman Yunani Kuno (terkait geometri, aritmatika, aljabar, dan numerologi) yang di-revive pada masa Renesans di Eropa dan menjadi titik tolak kehidupan modernisme dunia, hingga berujung pada berbagai “krisis cendekia” akan kemunculan berbagai “pemberontakan” dalam kehidupan posmodernitas kekinian. Sorotan akan ketaklengkapan aritmatika (Kurt Godel, 1931), mekanika kuantum (Werner Heissenberg, 1927), hingga perspektif sosial (Lyotard, 1979) dan kemunculan era seni populer industrial (misalnya Andy Warhol, 1970-an), kesemuanya merupakan titik-titik yang terkait secara tak langsung sebagai tantangan terhadap modernitas yang berakar pada filsafat helenisme.

Titik kedua, adalah tendensi pergerakan ilmu-ilmu pengetahuan dari cara pandang mono-disipliner warisan abad pencerahan menjadi perspektif kompleks yang interdisiplin. Hokky Situngkir menyoroti perkembangan ilmu-ilmu yang mulai melihat tiap elemen observasi (baik alam maupun sosial) sebagai hal yang tak pernah sepenuhnya independen, sebagaimana di-“ideal”-kan oleh ilmu-ilmu warisan abad pencerahan. Kritik generalisasi gerak acak yang berpijak pada normalitas data “ditantang” dengan kenyataan bahwa parameter-parameter statistika normal  perlu ditinjau ulang terkait temuan empiris akan sebaran statistik data-data.

Titik ketiga,perkembangan antara matematika mutakhir, dalam hal ini geometri fraktal, sebagai bentuk apresiasi baru atas berbagai warisan kebudayaan Indonesia, misalnya batik, candi, dan sebagainya. Penemuan geometri fraktal pada desain batik tradisional Indonesia merupakan sebuah titik temu yang menarik antara “yang barat” dan “yang timur”, harmoni antara yang modern dengan yang tradisional, yang seringkali justru dipertentangkan satu sama lain. Hal ini ditambah pula dengan kenyataan faktual akan kekayaan kultural yang dimiliki orang –orang di kepulauan Indonesia sebagai salah satu negeri di mana kemajemukan budaya sebagai salah satu yang tertinggi di dunia.

Dalam pemaparannya, Hokky Situngkir menunjukkan bahwa “menggambar tiga neksus” tersebut merupakan sebuah peluang akan kebangkitan budaya Indonesia, bahkan “Renesans Indonesia” atau “Renesans Asia” dengan menilik pada tahapan-tahapan umum yang biasanya dialami banyak negara maju. Tahapan-tahapan tersebut adalah revitalisasi budaya, restrukturisasi sistem pendidikan, bangkitnya budaya baru, revolusi sains, restrukturisasi politik, dan kemudian transformasi sosial dan ekonomi yang menyebabkan pada akhirnya, mereka dikenal sebagai “negara maju”. 

Pada kesempatan itu pula, Hokky menunjukkan inisiatif pengumpulan data budaya ala Wikipedia di situs partisipatif ensiklopedia terbuka Budaya Indonesia:http://www.budaya-indonesia.org/ yang dibangun dengan keprihatinan bahwa sekian tahun Indonesia merdeka, belum pernah ada pencatatan yang komprehensif dan menjadi portal terpusat data-data kebudayaan tradisional Indonesia. Ironis, mengingat kepulauan Indonesia menyimpan sejuta potensi budaya tradisi yang menjadi satu elemen yang memungkinkan terwujudnya “Renesans Indonesia”.

Diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab seputar pemaparan kedua narasumber. Kebanyakan peserta diskusi membenturkan peluang besar kebangkitan Indonesia tersebut dengan kenyataan umum Indonesia, baik di kemasyarakatan maupun birokrasi politik yang menjadi tontonan sehari-hari, yang penuh kesemrawutan dan perlu pembenahan di sana-sini. Setidaknya, benturan-benturan impian akan kebangkitan budaya Indonesia dan Asia ini diharapkan dapat menjadi pemicu yang bermanfaat tatkala kita mulai lagi memperbaiki struktur dan kultural sosial kemasyarakatan kita, tahap demi tahap, pelan tapi pasti.

Yang jelas, pemaparan kedua narasumber, terutama Hokky Situngkir, menunjukkan betapa memang kaya negeri Indonesia ini, dan kekayaannya itu bukan hanya mampu menguntungkan dirinya sendiri tapi juga bisa menguntungkan seluruh dunia.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Artikel Populer
Aug 10, 1996, 4:40 PM - admin
Jun 18, 2021, 4:40 PM - admin
Jun 18, 2021, 4:40 PM - admin
Jul 15, 2021, 1:59 PM -