”Tempat Pasar dalam Republik”
UNDANGAN DISKUSI
”Tempat Pasar dalam Republik”
Dalam sejarah pemikiran politik Barat, ”republik” seringkali diletakkan dalam posisi berhadapan dengan ”pasar.” Republik umumnya diartikan sebagai tatanan politik di mana warganya aktif mengatur diri mereka sendiri dengan sepenuhnya mencurahkan hidupnya demi urusan publik (res publika). Dengan cara itulah mereka mempertahankan kebebasan dan otonomi mereka dari kekuatan tirani dan dominasi pihak luar.
Kehadiran pasar modern sejak abad 17 sampai sekarang memunculkan persoalan baru terhadap ide republik karena relasi perdagangan didasarkan pada kepentingan diri (self-interest) dan bukan pada kepentingan bersama. Sejumlah pemikir dari tradisi republikanisme seperti Roussaeu dan Hannah Arendt melihat pasar sebagai antitesis republik karena pasar dianggap hanya melahirkan sosok homo economicus yang melulu memikirkan kebebasn privat dan mengabaikan kebebasan publik. Pasar juga dianggap memunculkan bentuk dominasi baru yang pada akhirnya menggerogoti kemandirian ekonomi dan politik warga negara. Sementara itu, pemikir antiliberal Carl Schmitt menganggap liberalisme yang mendasari ekonomi pasar dianggap sebagai ancaman yang serius terhadap politik.
Sebaliknya, di mata para pemikir Pencerahan Skotlandia seperti Adam Smith dan David Hume, dan juga para penulis Federalist papers seperti James Madison dan Alexander Hamilton, melihat kepentingan diri yang dibawa oleh kultur komersial justru membawa manfaat politik bagi kelangsungan republik. Bagi mereka, kehadiran pasar merupakan sarana untuk menciptakan jenis republik baru, yang bukan saja berbeda, melainkan lebih unggul dibanding dengan republik lama. Friedrich Hayek bahkan menariknya lebih jauh ketika ia menekankan bahwa pasar dengan spontaneous order-nya adalah satu-satunya prasayarat bagi tegaknya kebebasan. Sementara itu, pemikir post-Marxis seperti Chantal Mouffe mengacu pada ide-ide republikanisme ketika ia menyerukan pentingnya radikalisasi demokrasi (menceraikan demokrasi dari liberalisme demi menyelamatkan prinsip kesetaraan dan pluralisme).
Bagaimana sesungguhnya relasi antara pasar, kebebasan dan republik? Bagaimana kepentingan diri bertaut dengan kepentingan publik? Bagaimana kaitan antara kebebasan individu dengan nilai-nilai republik? Betulkah liberalisme menyebabkan matinya politik?
Di tengah kembali menghangatnya perbincangan tentang neoloberalisme dan ekonomi kerakyatan, isu-isu tersebut layak untuk kita diskusikan.
Pembicara:
Akhmad Sahal
Mahasiswa Doktoral Ilmu Politik Universitas Pennsylvania
Arianto Patunru Phd
Direktur LPEM FEUI
Moderator:
Hamid Basyaib
Hari/tanggal: Rabu, 12 Agustus 2009
Tempat: Kantor Freedom Institute, Jalan Irian No. 8, Menteng
Pukul: 19.00-21.00 (makan malam tersedia mulai 18.15)
Terima kasih atas perhatian anda.
Salam,
Luthfi Assyaukanie
Deputi Direktur Freedom Institute
telah dibaca : 2162
Melanjutkan tradisi yang sudah berlangsung selama delapan tahun, kali ini Freedom Institute memberikan penghargaan tahunan di lima bidang berikut: kesusastraan, pemikiran sosial, kedokteran, sains, dan teknologi. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini ditambahkan satu hadiah khusus yang diberikan kepada peneliti muda di bawah 40 tahun.
Inilah para penerima PAB 2010:
Sitor Situmorang (bidang Kesusastraan)
Daoed Joesoef (bidang Pemikiran Sosial)
S. Yati Soenarto (bidang Kedokteran)
Daniel Murdiyarso (bidang Sains)
Sjamsoe’oed Sadjad (bidang Teknologi)
Ratno Nuryadi (Hadiah Khusus)
Kemarin (21 juni 2010) Freedom Institute telah menerima surat dari Sdr. Goenawan Mohamad, penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2004 untuk kategori kesusastraan. Penghargaan ini diberikan untuk mengapresiasi karya, dedikasi dan pengabdian Sdr. Goenawan terhadap dunia sastra dan kebudayaan Indonesia. Lewat surat tersebut, Sdr. Goenawan mengembalikan penghargaan yang diterimanya kepada Freedom Institute.









