Freedom Jazz, Pertemuan KJK ke-93
Ayo hadiri pertemuan KJK ke-93, Sabtu 28 Januari 2012 ini, jam 13.00-21.00, di Freedom Institute, Wisma Proklamasi, Jl.Proklamasi No.41, Jakarta Pusat. Gratis dan terbuka untuk umum.Acara:
13.00-15.00: Putar Film "Sweet and Lowdown" (Woody Allen, 1999)
15.30-15.50: The Roads
16.00-16.20: LAW
16.30-16.50: RGP
17.00-17.20: 8
17.30-17.50: Join Company
18.20-18.50: Reza & Students
19.00-19.30: Aboda
19.30-19.50: Tesla Manaf
20.00-20.20: Traya
20.30-21.00: Jam Session
BERITA SEBELUMNYA
Pembaca bahasa Indonesia akhirnya dapat menikmati terjemahan The Road to Serfdom karya Friedrich A. Hayek (1899-1992), dengan judul Ancaman Kolektivisme. Buku termasyur Hayek yang pertama kali terbit pada 1944 ini memperingatkan bahaya perencanaan terpusat demi keadilan sosial dan pemerataan ekonomi ala sosialisme.
Diskusi buku ini di Wisma Proklamasi pada Kamis, 28 Oktober lalu membahas sejauh mana karya Hayek ini masih relevan untuk publik Indonesia. Pembicara dalam diskusi ini: sejarawan ekonomi Thee Kian Wie (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan intelektual Islam Ulil Abshar Abdalla (Direktur Program Freedom Institute). Moderator diskusi: Abdul Rahman, seorang mahasiswa alumni lokakarya liberalisme dasar Akademi Merdeka. Jumlah peserta sekitar 100 orang.
Diskusi seri ke-2 Kompleksitas yang diselenggarakan Freedom Institute dan Bandung Fe Institute, mengambil tema “Kompleksitas Budaya dan Renesans Indonesia”. Diskusi yang dipimpin oleh moderator Nirwan A. Arsuka ini diawali dengan pemaparan bertajuk “Menjelaskan Kemajuan/Kekuatan Bangsa-bangsa” oleh I Gde Raka, seorang guru budaya dan manajemen inovasi yang pernah menjabat Kepala Pusat Penelitian Teknologi Institut Teknologi Bandung, dilanjutkan dengan paparan berjudul “Dari Kompleksitas Budaya Tradisi Ke Renesans Indonesia” oleh Hokky Situngkir, Presiden Bandung Fe Institute.Dalam pemaparannya, I Gde Raka menyoroti perspektif yang sangat sederhana dari Jared Diamond (berdasarkan bukunya yang berjudul “Guns, Germs, and Steel: The Fates of Human Societies,” terbit tahun 1997), bagaimana bangsa-bangsa Eropa bisa maju dan menaklukkan Amerika dan Australia oleh dukungan (kebetulan, accidental)
Hubungan negara dan agama merupakan isu yang cukup tua di Indonesia. Pada setiap pembahasan mengenai hubungan negara dan agama, biasanya dua kubu selalu diperhadapkan. Di satu kubu berdiri kaum agama yang diandaikan sepenuhnya menolak ide pemisahan agama dan negara. Sementara ada kubu di seberangnya yang memiliki pandangan berbeda. Diskusi Freedom Institute, 11 Agustus 2011, mencoba mengekplorasi perdebatan di kalangan kaum agama (Islam) sendiri mengenai isu hubungan negara dan agama, khususnya negara Islam. Diskusi ini sendiri membahas satu buku baru yang ditulis oleh Luthfi Assyaukanie, Ideologi Islam dan Utopia: Tiga Model Negara Demokrasi di Indonesia.”
Freedom Institute bersama Pusat Studi Kompleksitas Sosial di Indonesia: Bandung Fe Institute mengadakan diskusi serial yang membedah ke-Indonesia-an dalam perspektif ilmu-ilmu kompleksitas sosial. Diskusi serial ini direncanakan akan berlangsung sebulan sekali. Diskusi pertama telah dimulai pada hari Rabu, 14 September 2011 yang lalu, dengan mengetengahkan Direktur Bandung Fe Institute, Hokky Situngkir, sebagai pembawa diskusi yang dimoderatori oleh Nirwan A. Arsuka. Dalam diskusi bertema “Menuju Wawasan Kompleksitas untuk Memahami Narasi Kompleksitas Negeri” tersebut diketengahkan berbagai fondasi dasar trans-disiplin yang menjadi latar belakang teoretis dan empiris ilmu-ilmu kompleksitas.






