19 Mei 2013
  • Yahoo Messenger

freedom institute » CENTER FOR DEMOCRACY, NATIONALISM, AND MARKET ECONOMY STUDIES

DISKUSI PUBLIK
Universitas Nasional, 31 Maret 2009, pukul 13.00 – 16.00

Berbicara sebagai salah satu narasumber dalam diskusi publik bertema ” Pemilu 2009: Jalan Demokratis Menuju Kesejahteraan " yang diselenggarakan di Aula Blok I Universitas Nasional, Jl. Sawo Manila, Pejaten, Pasar Minggu, pada Selasa, 31 Maret 2009, pukul 13.00 – 16.00 yang lalu, Rizal Mallarangeng kembali menegaskan pandangan yang selama ini cukup sering ia kemukakan bahwa demokrasi kompatibel dengan kesejahteraan, demokrasi sangat mungkin membawa kesejahteraan.
“There is always an opportunity behind every event,” noted Hamid Basyaib, as he opened the night’s discussion on the role of government in economic crisis (“Peran Negara dalam Krisis Kapitalisme”). Acting as the moderator, Hamid argued that crisis is a chance for the capitalist economy to become more efficient thru learning. At the same time, capitalism’s rival, communism, crumbles in the face of economic crisis and is unable to adapt to new challenges.
Relasi modal dan kekuasaan pasca Soeharto Hubungan modal dan kekuasaan pasca Soeharto perlu dibaca dari perspektif yang lebih mampu menangkap dan menjelaskan fakta-fakta baru dalam perkembangan ekonomi dan politik di tanah air. Di samping masih percaya pada kekuatan gagasan, seperti yang dipaparkan dalam disertasinya...
Mencermati Pragmatisme Rezim SubsidiPengamat ekonomi Ari Perdana (tengah) dan Arianto Patunru (kanan) dalam forum seri diskusi ekonomi politik yang diadakan pada hari Kamis, 29 Mei, yang dimoderatori Direktur Program Hamid Basyaib (kiri). Kedua ekonom antara lain membahas kondisi-kondisi di mana, kapan, dan bagaimana subsidi bisa dibenarkan...
the islamistPamuk adalah orang Turki. Kita tidak akan membicarakan Turki, tapi Foucault dan sastra. Tapi perlu saya informasikan bahwa, Turki ini dalam kancah kesastraan Indonesia atapun dalam pemikiran merupakan negara yang paling sedikit dikenal. Tahun 80-an...
the islamistMalam ini kita akan berdiskusi tentang buku Ed Husain. Seorang Palestina Banglades. Pada bulan Mei dia menerbitkan buku “The Islamist”. Buku ini mengundang kontroversi dari kalangan Muslim Inggris maupun di luar Inggris...
atheisme Kalau saudara amati, buku-buku seperti buku Sam Harris, Letter to a Christian Nation, kira-kira mau menyatakan bahwa semakin kau cari ke dalam agama, intoleransi yang kau temukan. Jadi untuk apa? Kira-kira begitu. Dan juga cerminan dari situasi beragama sehingga buku-buku ini laku.
Prof. Abdullah Ahmed An-NaimKebebasan beragama meniscayakan adanya kemungkinan untuk tidak-percaya. Jika saya tidak boleh untuk disbelieve, saya tidak dapat believe. Jika believe merupakan satu-satunya pilihan, maka itu tidak bisa dianggap sebagai believe. Dengan kata lain, kemungkinan heresi merupakan sesuatu yang inheren dalam pengalaman keagamaan. Jika saya tidak boleh menjadi seorang yang heretik, maka saya tidak mungkin menjadi believer. Secara logis hal itu harus berjalan bersama-sama. Tidak bisa salah satunya yang dipaksakan. Dengan demikian, negara dan Islam harus secara institusional dipisahkan. Negara tidak boleh bersifat Islam. Negara harus netral. Negara akan menjadi korup jika ia mengklaim suatu keyakinan keagamaan tertentu.
chernovSaya mempelajari Islam di Indonesia, Turki dan Malaysia. Dan banyak hal positif terjadi di ketiga negara itu. Pertanyaan dalam tesis saya adalah mengapa beberapa negara Islam bisa menjalankan gerakan politik yang damai sementara negara-negara lain tidak dapat. Studi ini berbeda dari studi-studi yang bertolak dari What Went Wrong, karena studi ini bertolak dari What Went Right. Studi Saya meneliti peran negara dalam masalah ini.
Identitas keagamaan dan partisipasiTerima kasih banyak teman-teman saya yang ikut diskusi ini.
Saya mungkin akan berbicara baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris. Saya sudah lama di Indonesia, tapi belum lancar juga. Disertasi saya itu berjudul “suara orang beriman: agama dan partisipasi politik di Indonesia masa kini.” Saya di Jakarta sudah 1 tahun lebih dan banyak sekali mendapatkan dukungan dalam proyek saya. Saya berterima kasih terutama pada Freedom Institute. Juga The Indonesian Institute, LIPI. Saya juga ingin berterima kasih pada Pak Rizal Mallarangeng, Saiful Mujani, dan Pak Silitonga.