freedom institute » CENTER FOR DEMOCRACY, NATIONALISM, AND MARKET ECONOMY STUDIES

8 Februari 2010 facebook.com myspace.com stubble blogmarks del.icio.us digg Fark Furl Ma.gnolia NewsVine OkNotizie Reddit Shadows Simpy Spurl Segnalo TailRank Technorati YahooMyWeb
UNDANGAN DISKUSI
"Memahami Isu Krisis Pangan Dunia"

“Krisis pangan” sedang melanda dunia, demikianlah banyak dilaporkan di media massa. Kenaikan harga pangan dunia telah mencapai 50% dalam kurun waktu setahun, menurut Food and Agriculture Organization pada sebuah laporan bulan Mei lalu. Dampak krisis digambarkan sebagai sangat mengkhawatirkan, mulai dari bahaya kelaparan massal hingga ke kerusuhan sosial. Menurut World Bank, kenaikan harga pangan tahun ini akan mendorong 100 juta orang ke jerat kemiskinan. Namun, dalam keadaan ini ada pula yang melihat sisi positifnya: harga tinggi pangan akan mendorong investasi di bidang ini, yang bisa berarti ketersediaan pangan dan harga akan kembali normal.

Sudah banyak forum yang mencoba mengupas wacana krisis global ini. Yang terbaru mungkin yang terjadi di website The Economist.* Diskusi tersebut menyimpulkan harga tinggi pangan saat ini bukanlah melulu persoalan, melainkan suatu hal yang baik atau buruknya perlu dilihat kembali konteks persoalannya.

Bagaimana memahami wacana hangat ini, dan yang terpenting, bagaimana menguraikannya agar kita bisa terbantu memahaminya dalam konteks situasi di Indonesia saat ini?

Untuk itu, Freedom Institute bekerjasama dengan Friedrich Naumann Stiftung dan komunitas blogosfir www.cafesalemba.blogspot.com mengundang Anda untuk hadir dan berdiskusi bersama Prof. Dr. Bungaran Saragih (Institut Pertanian Bogor) dan Dr. Arianto Patunru (Universitas Indonesia) pada:

Hari/Tanggal: Kamis, 28 Agustus 2008
Pukul: 18.00 – 21.00 (dimulai makan malam)
Tempat: Kantor Freedom Institute Jalan Irian No. 8, Menteng, Jakarta Pusat

Untuk konfirmasi kehadiran, silakan hubungi Sdri. Tata atau Nadya di 021 31909226.

Terima kasih untuk perhatian Anda.

Salam,
Luthfi Assyaukanie
Deputi Direktur


* The Economist
Bahan Diskusi

telah dibaca : 830

BERITA SEBELUMNYA
28 Januari 2010 kemarin, tepat 100 hari usia pemerintahan SBY-Boediono. Berbagai kalangan menyoroti masa ini untuk melihat bagaimana kira-kira kinerja pemerintahan ini 4-5 tahun ke depan. Momentum 100 hari pertama kinerja SBY-Boediono inilah yang coba dicermati oleh Freedom Institute dan Friedrich Naumann Stiftung (FNS) dengan menggelar diskusi publik "100 Hari SBY dan Arah Ekonomi Indonesia,” pada Selasa, 2 Februari 2010, pukul 18.00-21.00. Dua orang pembicara ditampilkan dalam diskusi ini: Dr. M. Chatib Basri, Staf Ahli Menteri Keuangan, dan Dr. Umar Juoro, Peneliti Senior The Habibie Centre. Diskusi ini dipandu langsung oleh Direktur Eksekutif Freedom Institute: Dr. Rizal Mallarangeng.
VIVAnews - Pasca maraknya desakan politik terkait kasus Century, Pemerintah diperkirakan tidak memiliki keberanian mengambil kebijakan tidak populis seiring menguatnya political capital selama beberapa waktu terakhir. "Pemerintah tidak mempunyai keberanian untuk ambil tindakan tidak populis," ujar Staf Ahli Menteri Keuangan M Chatib Basri dalam Diskusi Freedom Institute 100 Hari SBY dan Arah Ekonomi Indonesia di Wisma Proklamasi, Jalan Proklamasi, Jakarta, 2 Februari 2010.
VIVAnews - Peneliti Senior The Habibie Center Umar Juoro menilai pencapaian program 100 hari ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II baru sebatas pemberian tanda check list terhadap rencana program serta administrasi, namun belum dirasakan masyarakat. "Dari sisi pengamat dan pelaku ekonomi mereka tidak melihat hal itu dan masyarakat tidak perduli dengan peraturan yang dibuat," ujar Umar Juoro dalam Diskusi Freedom Institute 100 Hari SBY dan Arah Kebijakan Ekonomi di Wisma Proklamasi, Jakarta, Selasa malam, 2 Februari 2010.
Muktamar NU yang akan digelar pada Maret depan bakal diwarnai suasana syahdu karena masih cukup dekat dengan memori meninggalnya tokoh besar mereka: KH Abdurrahman Wahid. Forum pertemuan terbesar kaum Nahdliyin itu ditunggu banyak orang, khususnya karena muktamar itu bakal memilih Ketua PBNU, yang akan memimpin organisasi ini selama lima tahun ke depan. Di tengah keterpurukannya, NU sekarang memerlukan seorang pemimpin baru, yang visioner, punya karakter kuat, serta mampu memainkan peran seperti Gus Dur memainkan perannya pada era 1980an.
Hari Minggu kemarin, 29 Nopember 2009, Freedom Institute memperingati dan merayakan ulang tahun Des Alwi yang ke-84. Acara yang cukup meriah ini diselenggarakan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta dengan dihadiri sekitar 200an tamu undangan yang berasal dari kerabat keluarga dan teman-teman Des Alwi dan Freedom Institute. Hadir diantara undangan tersebut Wakil Presiden RI Bapak Boediono beserta Ibu Herawati Boediono, Bapak Emil Salim dan isteri, Ibu Meutia Hatta dan Bapak Sri Edi-Swasono, Duta Besar Amerika Serikat, Duta Besar Belanda, Bapak Agust Parengkuan, Bapak Fikri Jufri, Ibu Hamid Algadri, dan banyak lagi.
B A N N E R
Membela Hak Individu dalam Politik dan Ekonomi Laporan Kegiatan Desember 2007 - November 2008 banner agenda 2009 banner gerakan kebebasan sipil banner kpw banner freelib banner diskusi banner penghargaan