21 Mei 2013
  • Yahoo Messenger

freedom institute » CENTER FOR DEMOCRACY, NATIONALISM, AND MARKET ECONOMY STUDIES

Kemerdekaan Ekonomi adalah Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati Manusia


Oleh : Didiet Budi Adiputro*)

Pada dasarnya setiap individu bisa maju, kreatif dan matang, jika individu itu memiliki kebebasan untuk memilih yang terbaik bagi dirinya sendiri. Karena seperti yang dikatakan filsuf Jerman Imanuel Kant, kita harus percaya bahwa manusia itu mampu memilih , dan mampu tumbuh. Dalam proses itulah berlangsung pembelajaran. Jika sekali-kali manusia itu gagal, toh itu lebih baik dibanding manusia itu terus menerus dibuatkan pilihan oleh otoritas lain di luar dirinya sehingga individu itu tak kunjung dewasa dan matang. Oleh karenanya, menerapkan sebuah sistem yang mampu menjamin kebebasan individu untuk memilih bagi dirinya sendiri jadi suatu hal yang tak terelakkan lagi.

Pikiran Kant itu memang relevan jika kita kaitkan dengan kondisi kehidupan modern saat ini. Karenanya selain kebebasan politik seperti hak memilih dalam pemilu, hak bicara, dan sebagainya. Maka kebebasan dalam ekonomi juga harus turut mengikuti. Dalam diskusi di kursus Akademi Merdeka yang diadakan di Lido Lakes Resort Hotel, Sukabumi dengan materi Kebebasan Ekonomi, ekonom Poltak Hotradero mengatakan bahwa kemerdekaan sejati hanya bisa dicapai bila manusia memiliki hak atas aktualisasi diri secara ekonomi.Karena hanya dengan cara itulah yang bisa membedakan antara manusia merdeka dan kaum budak.

Ekonomi liberal menjamin hak-hak individu yang tidak dapat dilepaskan dari kodrat manusia, antara lain hak untuk berkreasi menciptakan sesuatu, hak untuk bertransaksi, dan hak untuk menikmati hasil kerja. Jadi individu dibiarkan bebas untuk memilih bagi dirinya sendiri. Dari sanalah individu tersebut bisa menentukan di mana letak keahliannya masing-masing, tanpa harus dipaksa otoritas lain. Tidak seperti di negara sosialis, di mana negara mengatur apa yang harus dikerjakan setiap individu, meskipun bukan spesialisasinya. Jadi liberal jauh lebih efisien karena setiap orang bekerja dengan kelebihan masing-masing, ujar Poltak.

Dengan adanya spesialisasi setiap individu di berbagai sektor, maka seorang individu tidak perlu memiliki atau mengerjakan sesuatunya seorang diri, sehingga ekonomi tetap bisa berjalan tanpa harus negara mengatur apa yang harus dikerjakan setiap orang. Kita bisa mengkonsumsi ayam , tanpa harus menyembelih ayam sendiri, tambah Poltak.

Seperti yang dikatakan Frederic Bastiat dalam karyanya yang terkenal ”Ketika Paris Tertidur Nyenyak”. Di sana Bastiat membayangkan seluruh warga kota Paris bisa tidur nyenyak di malam hari tanpa takut keesokan paginya tidak ada makanan, air bersih, transportasi umum , dll. Karena tugas-tugas itu sudah dikerjakan oleh orang lain yang punya spesialisasi tertentu. Bukan berarti orang-orang itu baik dengan kita mau sukarela menyediakan berbagai kebutuhan yang diperlukan. Tapi karena orang-orang tersebut punya kepentingan ekonomi untuk diri mereka sendiri. Di sanalah ekonomi liberal bekerja.

Tapi kebebasan ini juga harus dilandasi pada penghormatan pada rule of law, kesetaraan di depan hukum (equality before the law), jaminan atas hak milik (property rights) dan juga jaminan atas kontrak. Karena aspek hukumlah yang dapat melindungi individu dari tindakan kriminal ekonomi seperti pencurian dan penipuan.

Menurut Poltak, ekonomi liberal mendukung terciptanya pemerintahan yang ramping atau biasa disebut limited government. Salah satunya dengan birokrasi yang ramping. Tapi ada pertanyaan, bukannya pemerintahan yang besar justru akan memberikan pelayanan maksimal bagi masyarakat dan dapat membuka lapangan pekerjaan?

Memang logikanya seperti itu, tapi dalam perspektif ekonomi liberal ada beberapa faktor yang membuat birokrasi yang ramping itu menjadi perlu diimplementasikan. Pertama, pemerintahan itu dibiayai oleh pajak masyarakat , jadi semakin besar ukuran dan urusan birokrasi maka akan semakin besar uang pajak yang terserap untuk membiayainya. Kedua, semakin tinggi pajak yang terserap maka semakin sedikit hasil pajak yang bisa diterima langsung untuk kepentingan masyarakat, seperti pendidikan, fasilitas publik, dll.

Selain itu dengan porsi birokrasi yang besar, secara tidak langsung hal ini justru akan mereduksi peran masyarakat itu sendiri untuk mengatur kehidupannya. Karena orang liberal mempunyai sikap untuk memberikan ruang yang terbatas bagi negara untuk bergerak, jadi segala sesuatu yang berkaitan di masayarakat tidak perlu lagi negara harus sibuk mengurusi.

Penerapan kebebasan ekonomi sebuah bangsa secara empiris juga terbukti mendorong adanya kebebasan politik . Seperti yang dikatakan pemenang nobel ekonomi Milton Friedman, bahwa Kebebasan Ekonomi adalah landasan bagi kemerdekaan secara politik. Jadi selain memperkuat peran individu dalam aktivitas ekonomi, kebebasan ekonomi juga turut memperkuat demokrasi.

*) Mahasiswa Universitas Nasional dan peserta kursus Akademi Merdeka, 26-28 Februari 2010.

telah dibaca : 5391

BERITA SEBELUMNYA
imageKebebasan seperti apakah yang paling penting untuk kehidupan manusia? Isaiah Berlin membagi dua jenis kebebasan dalam bukunya "Two Concept Of Liberty". Pertama adalah kebebasan negatif yaitu kondisi yang meniadakan penghalang kebebasan. Kedua adalah kebebasan positif yang mengandaikan manusia bisa bebas melakukan hal-hal yang baik dan positif. Konsep negatif di atas telah mengilhami beberapa ide yang serupa dari Friedrich Hayek, Milton Friedman, hingga Amartya Sen. Forum Freedom pada hari Kamis, 5 April 2013 menyelenggarakan diskusi untuk membahas hal tersebut bersama Robertus Robet dari Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dan Romo A. Setyo Wibawa dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Ulil Abshar Abdalla dari Freedom Institute menjadi moderator dalam diskusi kali ini.

Romo Setyo yang mendapat giliran pertama untuk berbicara. Di awal bahasannya, Romo berbicara tentang artikel Fred Mcmahon yang menjadi referensi diskusi kali ini.
imageGedung serbaguna Wisma Proklamasi di sore 23 April itu dipenuhi oleh kaum muda yang datang untuk menonton dan mendiskusikan film “Rectoverso” yang dipilih oleh kine klub kerjasama Freedom Institute dan The Japan Foundation untuk menyambut Hari Kartini. Film berdurasi 110 menit ini menarik antara lain karena menonjolnya sosok perempuan, baik yang berperan di depan kamera, dan terutama yang bekerja di belakang lensa. Berangkat dari “novel” karya Dewi Lestari (Dee), film ini menghadirkan lima cerita yang masing-masing disutradarai oleh lima perempuan yang selama ini lebih dikenal sebagai aktris. Mereka adalah Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lidya, dan Happy Salma.

Dalam diskusi yang berlangsung seru itu, peran perempuan memang sempat dibahas, tapi dengan segera topik ini mundur menyisihkan diri. Paparan yang disampaikan oleh pembicara Marcella Zalianty (produser “Rectoverso”, surtadara “Malaikat Juga Tahu”) dan Olga Lydia (sutradara “Curhat untuk Sahabat”) memancing tanggapan dari peserta diskusi untuk membahas:
imageBeberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 13 April 2013 Perpustakaan Umum Freedom menerima kunjungan dari SD, SMP serta SMK Lazuardi yang merupakan sekolah Islam yang didirikan oleh Yayasan Lazuardi Hayati yang berwawasan global dan menerapkan kurikulum internasional dari University Of Cambridge International Examinations. Yayasan Lazuardi Hayati ini berpandangan Islam progresif, mengedepankan pemahaman mengenai perbedaan dan toleransi, termasuk didalamnya dengan menerapkan sistem inklusi yang memberi kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus (special need students).

Dalam rangka memperingati Hari Buku Dunia atau yang disebut dengan World Book Day yang bertepatan pada tanggal 23 April 2013 para guru dari Sekolah Lazuardi memilih Perpustakaan Umum Freedom sebagai salah satu tujuan kunjungan. Adapun tujuan dari kunjungan kali ini adalah untuk mengenalkan para siswa pada perpustakaan.
image100 Kali sudah, Komunitas Jazz Kemayoran (KJK) telah mengadakan pertemuan bulanannya. Berarti sudah 8 tahun 4 bulan usianya kini. Dan tidak terasa juga sudah 1 tahun, KJK mengadakan pertemuannya di Wisma Proklamasi, Jl.Proklamasi no.41 Jak-Pus @freedominstitute. Tempat yang begitu asri, dan sangat cocok sekali untuk kegiatan sebuah komunitas seperti KJK ini. Dan yang terpenting Freedom Institute dan KJK memiliki visi dan misi yang sama. Ini membuat KJK seperti di rumah sendiri dan terasa sekali disupport, diapreasiasi di saat main dan tidak main.

Pertemuan seperti biasanya dimulai pada pukul 1 siang. Kali ini ada sesuatu yang berbeda. Yang biasanya, pada pukul 13.00-15.00, adalah acara Nonton Bareng, selama 2 jam penuh, dan diputarkan film Jazz yang langka, tentang sebuah tokoh, atau cerita cerita yang berkaitan dengan perkembangan dan sejarah jazz. Kali ini yang diputar adalah film “Beben Jazz- Totalitas sebuah pengabdian” (wah, film tentang saya nih).
Laporan Kegitan Freedom Institute 2011 EFN Converence Aku, Pensil This CD is a mini library of classical and modern texts that discuss and explain the beneficial effects of free societies and the institutional arrangements that underpin them Membela Hak Individu dalam Politik dan Ekonomi banner freelib banner diskusi banner penghargaan
VIDEO PROFIL


VIDEO
FOTO


Â