SIARAN PERS
Economic Freedom Network Asia Serukan Pembebasan Pergerakan dan Perlindungan bagi Pekerja Migran Domestik dan Internasional
Konferensi internasional tahunan Economic Freedom Network Asia
(www.efnasia.org) telah menyerukan pembebasan pergerakan dan
perlindungan hak dasar bagi pekerja migran domestik dan internasional.Di dalam resolusi yang diadopsi oleh lebih dari 150 peserta konferensi
bertajuk “Migrasi dan Kesejahteraan Bangsa-Bangsa”, 6-8 Oktober 2010 di
Jakarta, itu EFN Asia juga menyerukan agar pemerintahan di Asia
menjunjung tinggi kebebasan warga Negara untuk bergerak mencari
kesejahteraan bagi diri dan keluarga mereka.
“Perpindahan penduduk adalah fakta yang tak bisa diingkari. Di dunia yang
terintegrasi secara global seperti saat ini, yang ditandai oleh hubungan
dagang dan komunikasi lintas batas, imigrasi jadi kian
penting,” demikian resolusi itu dibuka.
“Para migran membawa pengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi dan
keanekaragaman budaya. Migrasi mengarah pada penciptaan kemakmuran – bagi
orang per orang, negara tujuan dan negara kampung halaman. Namun demikian,
ada persepsi yang keliru bahwa hanya perpindahan penduduk keluar yang
membawa manfaat bagi negara kampung halaman, sementara pergerakan penduduk
masuk ke satu negara membawa beban yang
merugikan,” lanjut jaringan yang telah bekerja sama dengan jaringan Economic
Freedom of the World Report (
www.freetheworld.com) sejak
tahun 1998 ini.
”Para migran juga terancam oleh berbagai kemungkinan buruk. Mereka yang
miskin dan berketrampilan rendah secara khusus sangat rentan
dieksploitasi,” seru resolusi EFN Asia.
Resolusi ditutup dengan penyataan, ” Kami percaya bahwa semua
rekomendasi ini harus diterima secara universal oleh semua negara. Hak-hak
migran harus dilindungi dan kedaulatan hukum harus dtegakkan tanpa
diskriminasi. Akhirnya harus ada mekanisme pendukung bagi
pemangku kepentingan publik dan privat untuk membantu melancarkan
perpindahan penduduk (migrasi).”
Berikut ini adalah naskah lengkap resolusi itu, dalam dua bahasa,
Inggeris dan Indonesia, yang dibacakan pada malam 8 Oktober 2010, di Gedung
Serbaguna Freedom Institute, Jalan Proklamasi 41, Jakarta.
Unduh Resolusi Konferensi EFN .doc
EFN Converence Resolution Download .doc
telah dibaca : 68115
Kebebasan seperti apakah yang paling penting untuk kehidupan manusia? Isaiah Berlin membagi dua jenis kebebasan dalam bukunya "Two Concept Of Liberty". Pertama adalah kebebasan negatif yaitu kondisi yang meniadakan penghalang kebebasan. Kedua adalah kebebasan positif yang mengandaikan manusia bisa bebas melakukan hal-hal yang baik dan positif. Konsep negatif di atas telah mengilhami beberapa ide yang serupa dari Friedrich Hayek, Milton Friedman, hingga Amartya Sen. Forum Freedom pada hari Kamis, 5 April 2013 menyelenggarakan diskusi untuk membahas hal tersebut bersama Robertus Robet dari Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dan Romo A. Setyo Wibawa dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Ulil Abshar Abdalla dari Freedom Institute menjadi moderator dalam diskusi kali ini.Romo Setyo yang mendapat giliran pertama untuk berbicara. Di awal bahasannya, Romo berbicara tentang artikel Fred Mcmahon yang menjadi referensi diskusi kali ini.
Gedung serbaguna Wisma Proklamasi di sore 23 April itu dipenuhi oleh kaum muda yang datang untuk menonton dan mendiskusikan film “Rectoverso” yang dipilih oleh kine klub kerjasama Freedom Institute dan The Japan Foundation untuk menyambut Hari Kartini. Film berdurasi 110 menit ini menarik antara lain karena menonjolnya sosok perempuan, baik yang berperan di depan kamera, dan terutama yang bekerja di belakang lensa. Berangkat dari “novel” karya Dewi Lestari (Dee), film ini menghadirkan lima cerita yang masing-masing disutradarai oleh lima perempuan yang selama ini lebih dikenal sebagai aktris. Mereka adalah Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lidya, dan Happy Salma.Dalam diskusi yang berlangsung seru itu, peran perempuan memang sempat dibahas, tapi dengan segera topik ini mundur menyisihkan diri. Paparan yang disampaikan oleh pembicara Marcella Zalianty (produser “Rectoverso”, surtadara “Malaikat Juga Tahu”) dan Olga Lydia (sutradara “Curhat untuk Sahabat”) memancing tanggapan dari peserta diskusi untuk membahas:
Beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 13 April 2013 Perpustakaan Umum Freedom menerima kunjungan dari SD, SMP serta SMK Lazuardi yang merupakan sekolah Islam yang didirikan oleh Yayasan Lazuardi Hayati yang berwawasan global dan menerapkan kurikulum internasional dari University Of Cambridge International Examinations. Yayasan Lazuardi Hayati ini berpandangan Islam progresif, mengedepankan pemahaman mengenai perbedaan dan toleransi, termasuk didalamnya dengan menerapkan sistem inklusi yang memberi kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus (special need students).Dalam rangka memperingati Hari Buku Dunia atau yang disebut dengan World Book Day yang bertepatan pada tanggal 23 April 2013 para guru dari Sekolah Lazuardi memilih Perpustakaan Umum Freedom sebagai salah satu tujuan kunjungan. Adapun tujuan dari kunjungan kali ini adalah untuk mengenalkan para siswa pada perpustakaan.
100 Kali sudah, Komunitas Jazz Kemayoran (KJK) telah mengadakan pertemuan bulanannya. Berarti sudah 8 tahun 4 bulan usianya kini. Dan tidak terasa juga sudah 1 tahun, KJK mengadakan pertemuannya di Wisma Proklamasi, Jl.Proklamasi no.41 Jak-Pus @freedominstitute. Tempat yang begitu asri, dan sangat cocok sekali untuk kegiatan sebuah komunitas seperti KJK ini. Dan yang terpenting Freedom Institute dan KJK memiliki visi dan misi yang sama. Ini membuat KJK seperti di rumah sendiri dan terasa sekali disupport, diapreasiasi di saat main dan tidak main.Pertemuan seperti biasanya dimulai pada pukul 1 siang. Kali ini ada sesuatu yang berbeda. Yang biasanya, pada pukul 13.00-15.00, adalah acara Nonton Bareng, selama 2 jam penuh, dan diputarkan film Jazz yang langka, tentang sebuah tokoh, atau cerita cerita yang berkaitan dengan perkembangan dan sejarah jazz. Kali ini yang diputar adalah film “Beben Jazz- Totalitas sebuah pengabdian” (wah, film tentang saya nih).






