21 Mei 2013
  • Yahoo Messenger

freedom institute » CENTER FOR DEMOCRACY, NATIONALISM, AND MARKET ECONOMY STUDIES

ROMO MANGUN: TELAAH PEMIKIRAN DAN KARYANYA


imageYB Mangunwjaya atau yang dikenal luas sebagai Romo Mangun adalah sosok multi-dimensi. Ia dikenal sebagai rohaniwan, arsitek, budayawan, sastrawan, dan aktivis dan pembela wong wong cilik (bahasa Jawa untuk "rakyat kecil"). Untuk mengenang, menghormati, dan mengkaji buah pemikiran dan karya-karya peraih penghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay pada 1996 ini, Freedom Institute pada Kamis, 12 Mei 2011, menggelar diskusi “Romo Mangun: Telaah Pemikiran dan Karyanya”, yang menghadirkan para pembicara dari berbagai kalangan: Ayu Utami (Sastrawan), Bonnie Triyana (Ahli Sejarah), Erwinthon Napitupulu (Peneliti Arsitektur).

Ayu Utami, pembicara pertama dalam diskusi ini menyoroti Romo Mangun dari sisi sastra pada khususnya, dan budaya pada umumnya. Secara khusus Ayu menggali sisi humanisme dan berbagai paradoks kecilnya dalam pemikiran dan karya Romo Mangun. Menurut Ayu, Romo Mangun lahir empat tahun saja setelah Pramoedya, tetapi ia baru mulai menyumbang dalam kesusastraan Indonesia di usia cukup larut. Novel pertamanya terbit tahun 1981, di puncak kejayaan presiden Suharto. Ketika itu Y.B. Mangunwijaya telah berumur 51 tahun. Karena itulah, barangkali, rentangan karya sastra Romo Mangun--selama hampir dua dekade kemudian--tidak berbagi kegelisahan yang sebangun dengan mereka yang telah menulis di era Sukarno. Yang sangat jelas, misalnya, ia tidak mengambil peran dalam konflik Manifesto Kebudayaan di paruh awal tahun 60-an. Ia masih pastor muda di masa itu. Sebagai imam junior, ia memang tidak memiliki kebebasan untuk terlibat dengan urusan-urusan duniawi tanpa izin hirarki Gereja Katolik. Setelah sebagai imam, ia adalah arsitek, baru kemudian sastrawan--demikian secara urut-waktu. Sebagai pengarang ia adalah "generasi" 80-an. Dan saya kira ia membawa serta terbawa "ruh zaman" era itu.

Pembicara kedua, Bonnie Triyana, membahas sisi kesejarahan dari Romo Mangun dan visi beliau tentang kebangsaan dan keindonesiaan. Seperti Ayu, Bonnie pun menganggap Romo Mangun sebagai sosok yang humanis. Bedanya Bonnie menambahkan embel-embel kritis di belakang kata humanisme itu. Bonnie beranggapan bahwa menurut Romo YB Mangunwijaya sejarah bukanlah soal menang atau kalah. “Kalah menang itu nisbi, dilihat oleh siapa dan dari segi mana,” kata dia dalam buku Mengenang Sjahrir (1980). Kemampuan melihat sejarah sebagai suatu pergumulan yang tak berujung menang atau kalah itu datang dari pemahaman bahwa sejarah merupakan perpaduan gugusan peristiwa dan interaksi kompleks dalam suatu proses “ekologis” pergulatan bangsa manusia, mempertinggi diri dari tingkat kebudayaan relatif rendah, berdimensi sedikit, ke tingkat relatif lebih tinggi, berdimensi lengkap secara lebih integral.

Bonnie menambahkan, sudut pandang Romo Mangun melihat sejarah menunjukkan siapa dirinya: seorang humanis yang tak gegabah meringkus kesimpulan sebuah pergumulan sejarah. Sebuah cara memahami sejarah lebih berimbang: tidak hitam tidak putih tapi selalu tegas ketika menjadi “hakim” di “pengadilan sejarah” untuk mendakwa mereka yang telah menginjak-injak nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Pembicara terakhir, Erwinthon Napitupulu, menyoroti pergulatan Romo Mangun dalam bidang yang selama ini kurang banyak dibahas orang: arsitektur. Pada umumnya, tilikan Erwinthon lebih berfokus pada buku Romo Mangun di bidang arsitektur, Wastu Citra. Erwinthon beranggapan bahwa materi yang dibahas buku ini sangat menarik dan sedikit lebih mudah dipahami ketimbang tulisan-tulisannya di bidang lain. Hal ini, menurut Erwinthon, mungkin karena dalam buku ini terdapat banyak ilustrasi, gambar, dan foto, yang masing-masing dilengkapi dengan keterangan yang cukup rinci. Bagi arsitek yang umumnya lebih dekat dengan gambar ketimbang kata, hal ini bisa dimaklumi.

Lebih jauh, Erwinthon mengatakan bahwa untuk mencoba lebih jauh memahami sebuah karya arsitektur Romo Mangun, bisa dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya: Pertama, membandingkannya dengan karya-karya arsitekturnya yang lain. Cara ini cukup jitu dilakukan pada bangunan-bangunan gereja karyanya yang umumnya punya gagasan desain yang tidak jauh berbeda. Kedua, mengaitkan dengan tulisan dan aktivitasnya di bidang yang lain, karena tidak jarang Romo Mangun berarsitektur sebagai perluasan dari kiprah sebelumnya di bidang lain. Ini dilakukan misalnya untuk karyanya di Kedungombo, Boyolali, berupa perahu yang selain sebagai alat penyeberangan antardesa yang dipisahkan oleh “danau”, juga digunakan sebagai perpustakaan terapung. Dan untuk bangunan SD Mangunan Kalasan, ketika ia memutuskan untuk berkiprah total pada pendidikan dasar untuk anak miskin. Ketiga, mengaitkan dengan tulisan dan pandangannya di bidang arsitektur, termasuk Wastu Citra. Cara ini ternyata membuat buku ini semakin menarik. Dan pengaitan itu dapat membuat hadirnya jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul ketika mencoba memahami karya-karya arsitektur Romo Mangun.

Diskusi ini sendiri dihadiri oleh 150 peserta dari berbagai kalangan, dan dipandu oleh Nirwan Dewanto.

Makalah Bonnie Triyana
Makalah Erwinthon Napitupulu
Makalah Ayu Utami

Foto Kegiatan
Video Kegiatan

telah dibaca : 6431

BERITA SEBELUMNYA
imageKebebasan seperti apakah yang paling penting untuk kehidupan manusia? Isaiah Berlin membagi dua jenis kebebasan dalam bukunya "Two Concept Of Liberty". Pertama adalah kebebasan negatif yaitu kondisi yang meniadakan penghalang kebebasan. Kedua adalah kebebasan positif yang mengandaikan manusia bisa bebas melakukan hal-hal yang baik dan positif. Konsep negatif di atas telah mengilhami beberapa ide yang serupa dari Friedrich Hayek, Milton Friedman, hingga Amartya Sen. Forum Freedom pada hari Kamis, 5 April 2013 menyelenggarakan diskusi untuk membahas hal tersebut bersama Robertus Robet dari Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dan Romo A. Setyo Wibawa dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Ulil Abshar Abdalla dari Freedom Institute menjadi moderator dalam diskusi kali ini.

Romo Setyo yang mendapat giliran pertama untuk berbicara. Di awal bahasannya, Romo berbicara tentang artikel Fred Mcmahon yang menjadi referensi diskusi kali ini.
imageGedung serbaguna Wisma Proklamasi di sore 23 April itu dipenuhi oleh kaum muda yang datang untuk menonton dan mendiskusikan film “Rectoverso” yang dipilih oleh kine klub kerjasama Freedom Institute dan The Japan Foundation untuk menyambut Hari Kartini. Film berdurasi 110 menit ini menarik antara lain karena menonjolnya sosok perempuan, baik yang berperan di depan kamera, dan terutama yang bekerja di belakang lensa. Berangkat dari “novel” karya Dewi Lestari (Dee), film ini menghadirkan lima cerita yang masing-masing disutradarai oleh lima perempuan yang selama ini lebih dikenal sebagai aktris. Mereka adalah Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lidya, dan Happy Salma.

Dalam diskusi yang berlangsung seru itu, peran perempuan memang sempat dibahas, tapi dengan segera topik ini mundur menyisihkan diri. Paparan yang disampaikan oleh pembicara Marcella Zalianty (produser “Rectoverso”, surtadara “Malaikat Juga Tahu”) dan Olga Lydia (sutradara “Curhat untuk Sahabat”) memancing tanggapan dari peserta diskusi untuk membahas:
imageBeberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 13 April 2013 Perpustakaan Umum Freedom menerima kunjungan dari SD, SMP serta SMK Lazuardi yang merupakan sekolah Islam yang didirikan oleh Yayasan Lazuardi Hayati yang berwawasan global dan menerapkan kurikulum internasional dari University Of Cambridge International Examinations. Yayasan Lazuardi Hayati ini berpandangan Islam progresif, mengedepankan pemahaman mengenai perbedaan dan toleransi, termasuk didalamnya dengan menerapkan sistem inklusi yang memberi kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus (special need students).

Dalam rangka memperingati Hari Buku Dunia atau yang disebut dengan World Book Day yang bertepatan pada tanggal 23 April 2013 para guru dari Sekolah Lazuardi memilih Perpustakaan Umum Freedom sebagai salah satu tujuan kunjungan. Adapun tujuan dari kunjungan kali ini adalah untuk mengenalkan para siswa pada perpustakaan.
image100 Kali sudah, Komunitas Jazz Kemayoran (KJK) telah mengadakan pertemuan bulanannya. Berarti sudah 8 tahun 4 bulan usianya kini. Dan tidak terasa juga sudah 1 tahun, KJK mengadakan pertemuannya di Wisma Proklamasi, Jl.Proklamasi no.41 Jak-Pus @freedominstitute. Tempat yang begitu asri, dan sangat cocok sekali untuk kegiatan sebuah komunitas seperti KJK ini. Dan yang terpenting Freedom Institute dan KJK memiliki visi dan misi yang sama. Ini membuat KJK seperti di rumah sendiri dan terasa sekali disupport, diapreasiasi di saat main dan tidak main.

Pertemuan seperti biasanya dimulai pada pukul 1 siang. Kali ini ada sesuatu yang berbeda. Yang biasanya, pada pukul 13.00-15.00, adalah acara Nonton Bareng, selama 2 jam penuh, dan diputarkan film Jazz yang langka, tentang sebuah tokoh, atau cerita cerita yang berkaitan dengan perkembangan dan sejarah jazz. Kali ini yang diputar adalah film “Beben Jazz- Totalitas sebuah pengabdian” (wah, film tentang saya nih).
Laporan Kegitan Freedom Institute 2011 EFN Converence Aku, Pensil This CD is a mini library of classical and modern texts that discuss and explain the beneficial effects of free societies and the institutional arrangements that underpin them Membela Hak Individu dalam Politik dan Ekonomi banner freelib banner diskusi banner penghargaan
VIDEO PROFIL


VIDEO
FOTO


Â