21 Mei 2013
  • Yahoo Messenger

freedom institute » CENTER FOR DEMOCRACY, NATIONALISM, AND MARKET ECONOMY STUDIES

Pembangunan Berkelanjutan: Tipisnya Tekad Politik


imagePengetahuan untuk menumbuhkan kehidupan ekonomi yang menyejahterakan rakyat miskin sekaligus juga mencegah penurunan kualitas lingkungan hidup sebenarnya sudah ada. Yang seringkali menjadi masalah dalam realitas kehidupan bermasyarakat adalah absennya kepemimpinan yang cerdas dan berani mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan itu. Politik kompromi yang lebih nyaman ditempuh, seringkali menghasilkan rentetan tindakan populis yang segera menyenangkan masyarakat luas tapi yang justru bisa bersifat kontraproduktif di masa depan. Kebijakan dan tindakan populis itu tak jarang membawa pembangunan ekonomi ke jalan yang tidak menyejahterakan sekaligus merusak daya dukung lingkungan hidup. Karena terlalu terikat pada tuntutan berjangka pendek, kebijakan itu bisa mengorbankan dan merampas pilihan dari generasi yang akan datang untuk menikmati tanahair bumi mereka. Demikianlah setidaknya garis besar pemikiran yang disampaikan oleh ekonom Arianto A. Patunru dan ahli kehutanan Daniel Murdiyarso ketika berdiskusi dengan sekitar 70 mahasiswa dan kaum muda komunitas Freedom Institute pada Kamis, 26 Mei lalu di Wisma Proklamasi, Menteng, Jakarta.

Menurut Arianto, pengetahuan ekonom sejak 20 tahun terakhir telah mengembangkan apa yang dikenal sebagai kerangka pembangunan ekonomi ramah lingkungan (green economy framework). Jika sebelumnya pembangunan ekonomi awal selalu diasosiasikan dengan penurunan kualitas lingkungan (environment Kuznet Curve), perkembangan masyarakat kini, menurut Ketua Lembaga Penyelidikan Masyarakat dan Ekonomi FEUI ini, telah memungkinkan koordinasi antar- maupun intra-negara untuk setidaknya meminimalkan efek negatif pembangunan ekonomi ini. Meskipun pelaksanaannya masih jauh dari sempurna, Arianto mencontohkan mekanisme kerjasama REDD (kemudian REDD+).

Contoh terbaru koordinasi ini adalah antara pemerintah Indonesia dan Norwegia, yang baru-baru ini telah melahirkan keputusan penundaan pembukaan hutan Indonesia, yang kemudian dibahas lebih jauh oleh Daniel. Di dalam negeri, pimpinan politik sebenarnya bisa menggalakkan kerjasama antar daerah, melalui berbagai pilihan kebijakan pertukaran yang saling menguntungkan. Arianto menyebutkan, antara lain, mekanisme PES (Payment for Environmental Services) yang bisa diterapkan di Jakarta dan wilayah di sekitarnya untuk bekerjasama menuntaskan masalah banjir, kemacetan, polusi udara, dll. Pada tingkat nasional pun kebijakan penerapan perhitungan PDB maupun APBN ramah lingkungan sebenarnya bisa ditempuh. Ini adalah kebijakan strategis yang ampuh untuk memasukkan perhitungan kelestarian lingkungan hidup (silakan ikuti ppt dan video AAP untuk detail perhitungan PDB dan APBN ini).

Keberanian pimpinan politik, dalam hal Indonesia kita Presiden SBY, juga dituntut untuk meniadakan subsidi BBM, kata Arianto. Kebijakan populis subsidi hanya menyimpan bom waktu. Menurut data yang dihimpun Arianto, kebijakan subsidi BBM ini tidak menguntungkan rakyat miskin, bahkan menghilangkan kesempatan pertumbuhan ekonomi yang bisa mereka nikmati jika alokasi subsidi tersebut dialihkan untuk pembangunan infrastruktur Indonesia yang sangat tertinggal dibandingkan dengan negeri-negeri tetangga.

Persoalan keberanian pimpinan politik nasional juga menjadi catatan Daniel Murdiyarso, yang dalam presentasinya mendiskusikan kelemahan keputusan politik Presiden SBY terkait dengan moratorium pembukaan hutan. Meskipun patut disambut positif, keputusan yang hampir setahun terlambat sejak ditandatanganinya komitmen REDD+ dengan pemerintah Norwegia, namun efektivitas Inpres 10/2011 sangat bisa dipertanyakan. Meskipun masih perlu dilihat apakah evaluasi pada November nanti akan semakin memperjelas luasan dan tetapan lahan hutan yang akan terlindungi lewat Inpres ini, menurut Daniel, Inpres ini mengalihkan pimpinan koordinasi pelaksanaan Inpres ke Kementerian Kehutanan yang selama ini belum terbukti efektif mengelolah kehutanan Indonesia secara berkelanjutan. Di samping itu, terang Daniel, masih banyak terdapat kelemahan lain dari Inpres ini. Kelemahan itu antara lain berupa tidak jelasnya definisi hutan "primer" yang hendak dilindungi, banyaknya instansi negara yang terlibat namun tidak mencakup Kementerian Pertambangan dan Sumber Daya Alam maupun Kementerian Pertanian, tidak diaturnya mekanisme pertukaran lahan atau swapping jika ternyata lahan yang dikecualikan mengandung karbon tinggi, dll.

Daniel, demikian pula Arianto, yakin bahwa pimpinan nasional, terutama Presiden SBY, punya kesempatan berbuat lebih banyak untuk meletakkan jalur pembangunan ekonomi Indonesia menjadi lebih berkelanjutan. Namun waktu itu semakin pendek, apalagi tahun depan, secara politik sangat tidak menguntungkan lagi untuk membuat kebijakan yang tidak populis, sepakat kedua pembicara.

Diskusi juga menanggapi beberapa pertanyaan peserta tentang perlunya perubahan mindset masyarakat. Pandangan yang perlu diubah itu antara lain yang menyangkut posisi manusia yang meletakkan dirinya lebih tinggi dari alam, tentang subsidi yang sebenarnya merugikan masyarakat dalam jangka panjang, dan tentang kebijakan reboisasi yang bisa menyesatkan. Menurut Daniel, kebijakan penanaman tunas pohon ini sangat disenangi pengambil kebijakan karena bisa diliput media secara besar-besaran, padahal kebijakan pelestarian hutan yang ada sebenarnya lebih mudah dikerjakan dan lebih bermanfaat ketimbang penanaman kembali hutan yang sudah terlanjur rusak itu.

Nirwan Arsuka dalam kesimpulannya kembali menyitir pernyataan Emil Salim dalam Kuliah Umum sebelumnya di Freedom Institute. Ia menandaskan perlunya penguatan masyarakat sipil untuk menekan dan menuntut para pengambil kebijakan untuk menggerakkan pembangunan ekonomi ke arah yang berkelanjutan. Karena cakrawalanya yang sempit, yang hanya terentang paling jauh lima tahun ke depan, para politisi pada umumnya memang tak dapat diharapkan untuk melepaskan kepentingan kelompoknya sendiri, dan mendorong kebijakan yang mengabdi pada kepentingan masyarakat luas dan generasi yang akan datang. Hanya tekanan sistematis dari masyarakat sipil yang terdidik dan berjaringan luas, yang bisa membuat para politisi itu tergerak menautkan pertumbuhan ekonomi yang mengangkat mutu hidup masyarakat luas dengan pengelolaan lingkungan yang menjaga mutu sistem pendukung kehidupan Planet Bumi.

Makalah Arianto A. Patunru
Makalah EDaniel Murdiyarso

Foto Kegiatan
Video Kegiatan


telah dibaca : 9286

BERITA SEBELUMNYA
imageKebebasan seperti apakah yang paling penting untuk kehidupan manusia? Isaiah Berlin membagi dua jenis kebebasan dalam bukunya "Two Concept Of Liberty". Pertama adalah kebebasan negatif yaitu kondisi yang meniadakan penghalang kebebasan. Kedua adalah kebebasan positif yang mengandaikan manusia bisa bebas melakukan hal-hal yang baik dan positif. Konsep negatif di atas telah mengilhami beberapa ide yang serupa dari Friedrich Hayek, Milton Friedman, hingga Amartya Sen. Forum Freedom pada hari Kamis, 5 April 2013 menyelenggarakan diskusi untuk membahas hal tersebut bersama Robertus Robet dari Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dan Romo A. Setyo Wibawa dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Ulil Abshar Abdalla dari Freedom Institute menjadi moderator dalam diskusi kali ini.

Romo Setyo yang mendapat giliran pertama untuk berbicara. Di awal bahasannya, Romo berbicara tentang artikel Fred Mcmahon yang menjadi referensi diskusi kali ini.
imageGedung serbaguna Wisma Proklamasi di sore 23 April itu dipenuhi oleh kaum muda yang datang untuk menonton dan mendiskusikan film “Rectoverso” yang dipilih oleh kine klub kerjasama Freedom Institute dan The Japan Foundation untuk menyambut Hari Kartini. Film berdurasi 110 menit ini menarik antara lain karena menonjolnya sosok perempuan, baik yang berperan di depan kamera, dan terutama yang bekerja di belakang lensa. Berangkat dari “novel” karya Dewi Lestari (Dee), film ini menghadirkan lima cerita yang masing-masing disutradarai oleh lima perempuan yang selama ini lebih dikenal sebagai aktris. Mereka adalah Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lidya, dan Happy Salma.

Dalam diskusi yang berlangsung seru itu, peran perempuan memang sempat dibahas, tapi dengan segera topik ini mundur menyisihkan diri. Paparan yang disampaikan oleh pembicara Marcella Zalianty (produser “Rectoverso”, surtadara “Malaikat Juga Tahu”) dan Olga Lydia (sutradara “Curhat untuk Sahabat”) memancing tanggapan dari peserta diskusi untuk membahas:
imageBeberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 13 April 2013 Perpustakaan Umum Freedom menerima kunjungan dari SD, SMP serta SMK Lazuardi yang merupakan sekolah Islam yang didirikan oleh Yayasan Lazuardi Hayati yang berwawasan global dan menerapkan kurikulum internasional dari University Of Cambridge International Examinations. Yayasan Lazuardi Hayati ini berpandangan Islam progresif, mengedepankan pemahaman mengenai perbedaan dan toleransi, termasuk didalamnya dengan menerapkan sistem inklusi yang memberi kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus (special need students).

Dalam rangka memperingati Hari Buku Dunia atau yang disebut dengan World Book Day yang bertepatan pada tanggal 23 April 2013 para guru dari Sekolah Lazuardi memilih Perpustakaan Umum Freedom sebagai salah satu tujuan kunjungan. Adapun tujuan dari kunjungan kali ini adalah untuk mengenalkan para siswa pada perpustakaan.
image100 Kali sudah, Komunitas Jazz Kemayoran (KJK) telah mengadakan pertemuan bulanannya. Berarti sudah 8 tahun 4 bulan usianya kini. Dan tidak terasa juga sudah 1 tahun, KJK mengadakan pertemuannya di Wisma Proklamasi, Jl.Proklamasi no.41 Jak-Pus @freedominstitute. Tempat yang begitu asri, dan sangat cocok sekali untuk kegiatan sebuah komunitas seperti KJK ini. Dan yang terpenting Freedom Institute dan KJK memiliki visi dan misi yang sama. Ini membuat KJK seperti di rumah sendiri dan terasa sekali disupport, diapreasiasi di saat main dan tidak main.

Pertemuan seperti biasanya dimulai pada pukul 1 siang. Kali ini ada sesuatu yang berbeda. Yang biasanya, pada pukul 13.00-15.00, adalah acara Nonton Bareng, selama 2 jam penuh, dan diputarkan film Jazz yang langka, tentang sebuah tokoh, atau cerita cerita yang berkaitan dengan perkembangan dan sejarah jazz. Kali ini yang diputar adalah film “Beben Jazz- Totalitas sebuah pengabdian” (wah, film tentang saya nih).
Laporan Kegitan Freedom Institute 2011 EFN Converence Aku, Pensil This CD is a mini library of classical and modern texts that discuss and explain the beneficial effects of free societies and the institutional arrangements that underpin them Membela Hak Individu dalam Politik dan Ekonomi banner freelib banner diskusi banner penghargaan
VIDEO PROFIL


VIDEO
FOTO


Â