21 Mei 2013
  • Yahoo Messenger

freedom institute » CENTER FOR DEMOCRACY, NATIONALISM, AND MARKET ECONOMY STUDIES

Laporan Diskusi Buku
Ancaman Kolektivisme, terjemahan The Road to Serfdom F.A. Hayek”


imagePembaca bahasa Indonesia akhirnya dapat menikmati terjemahan The Road to Serfdom karya Friedrich A. Hayek (1899-1992), dengan judul Ancaman Kolektivisme. Buku termasyur Hayek yang pertama kali terbit pada 1944 ini memperingatkan bahaya perencanaan terpusat demi keadilan sosial dan pemerataan ekonomi ala sosialisme.

Diskusi buku ini di Wisma Proklamasi pada Kamis, 28 Oktober lalu membahas sejauh mana karya Hayek ini masih relevan untuk publik Indonesia. Pembicara dalam diskusi ini: sejarawan ekonomi Thee Kian Wie (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan intelektual Islam Ulil Abshar Abdalla (Direktur Program Freedom Institute). Moderator diskusi: Abdul Rahman, seorang mahasiswa alumni lokakarya liberalisme dasar Akademi Merdeka. Jumlah peserta sekitar 100 orang.

Thee dan Ulil menilai buku Hayek ini tetap relevan untuk pembaca Indonesia, terutama karena masih sering disalahpahaminya paham liberalisme di Indonesia. Bahkan para pendukung paham ini sering dinistakan sebagai antek kapitalisme, bahkan anti-Islam, demikian menurut mereka.

Menurut Thee, sebagai pendekar kebebasan individu, Hayek secara efektif menunjukkan mengapa dan bagaimana sosialisme membuka jalan ke fasisme. Hayek mendiskusikan naiknya Nazisme di Jerman dan Fasisme Mussolini di Italia pada 1920an hingga 1930an, suatu fenomena yang menurut pengamatan Hayek tampaknya sedang berulang di Inggris pada masa itu. Waktu itu, kaum intelijensia Inggris gencar mendorong intervensi pemerintah ke pasar lewat kebijakan perencanaan ekonomi terpusat untuk mewujudkan cita-cita pembangunan ekonomi yang lebih merata dan berkeadilan sosial.

Hayek berpandangan bahwa perencanaan terpusat boleh jadi efektif di masa-masa perang, saat masyarakat disatukan oleh nilai kebersamaan dalam menghadapi musuh yang mengacam; mereka juga bisa memaklumi ketika sebagian kebebasan mereka dikorbankan pemerintah demi mengalahkan musuh. Namun, kebijakan demikian jelas tidak jalan di dalam sistem politik demokratis pada masa damai. Alasannya: pasti akan terjadi ketidaksamaan nilai yang mengakitbatkan perbendaan pandangan di kalangan para politisi tentang bagaimana “rencana terpusat” itu mesti dijalankan. Perbedaan semacam ini akan berujung pada deliberasi yang tak habis-habisnya di parlemen.

Akibatnya kemudian, lanjut Hayek, terjadi suasana ketidakpastian politik, memburuknya keadaan ekonomi, meningkatnya ketidaksabaran massa akan pemenuhan tuntutan keadilan sosial seperti yang sebelumnya disuarakan kaum sosialis (yang kemudian ragu-ragu terhadap jalan otoriterisme untuk mewujudkan “rencana”). Lalu: Tuntutan terhadap “pemimpin kuat” muncul, seiring nyaringnya populisme ekstrem baik dari politisi Kanan (nasionalis-chauvinis) maupun Kiri (komunis) dan menyatunya kalangan massa lugu berpendidikan rendah membentuk partai bersama para politisi populis itu, merebut kekuasaan (secara demokratis maupun tidak) dan kemudian memberangus kebebasan dan bahkan nyawa jutaan manusia. Itulah jalan kekuasaan Nazisme di Jerman dan Fasisme di Italia, seperti yang ditunjukkan oleh Hayek.

Menurut Thee, kaum pengkritik “neo-liberalisme” di Indonesia mesti membaca peringatan Hayek ini agar mereka bisa menangkap bagaimana esensi kebebasan individu liberalisme terancam hilang jika ekonomi bebas dan kompetitif yang sudah berlaku sekarang diberangus dan diganti dengan ekonomi perencanaan terpusat, walaupun cita-cita mulianya adalah kesejahteraan bersama.

Karya Hayek ini, menurut Thee, memang dipengaruhi oleh pengalaman dia hidup di dua dunia yang memiliki kecenderungan serupa: Di Austria di mana dia berhadapan langsung dengan eksperimen Nazisme yang sedang naik daun di Jerman saat itu, dan Inggris di mana dia menyaksikan maraknya suasana “kolektivistik” yang mendorong intervensi pemerintah dan perencanaan terpusat. Munurut Thee, situasi seperti dialami oleh Hayek pada tahun 20an dan 30an sudah tak ada lagi saat ini. Tetapi, bagi Thee, peringatan Hayek akan jebakan kolektivisme tetap relevan untuk terus didengar.

Sementara itu, Ulil menyoroti pandangan Hayek tentang betapa tidak kompatibelnya paham kolektivis dan sistem politik demokratis.

Untuk konteks Indonesia, Ulil mengingatkan bagaimana sebenarnya ada kesamaan cita-cita antara liberalisme, sosialisme dan Islamisme, yakni keadilan dan kesejahteraan. Yang berbeda adalah cara yang ditempuh. Jika liberalisme percaya dengan pasar bebas dan kompetitif serta penjaminan kebebasan individu, maka sosialisme maupun Islamisme menginginkan kolektivisme dan pemberangusan hak kepemilikan pribadi. Beda dengan liberalisme, sosialisme dan Islamisme hanya bersedia menempuh jalan demokratis demi merebut kekuasaan dan lalu memberangus demokrasi itu.

Paham demokrasi ala sosialis dan Islamis seperti itulah yang dalam perkembangan ilmu politik setelah Hayek dikenal sebagai one-stop democracy (one man, one vote, one time), suatu pandangan yang tampaknya dianut oleh kaum Islamis seperti Ikhwanul Muslimin dan Hizbuth Tharir. Menurut Ulil, Islamisme – seperti sosialisme – hidup di alam demokrasi yang melindungi kebebasan individu (dalam hal ini kebebasan politik mereka) namun memperjuangkan agenda-agenda yang dengan atau tanpa sadar akan memberangus kebebasan individu itu.

Buku Hayek ini, demikian tandas Ulil, secara cergas menunjukkan keunggulan sistem ekonomi bebas, yang menyediakan sarana bagi individu untuk menyalurkan energi kreatif mereka tanpa terlalu mengandalkan pemerintah yang “merencanakan” itu untuk mereka. Satu-satunya perencanaan yang diharapkan Hayek dari pemerintah adalah menciptakan kondisi-kondisi yang cocok (lewat kedaulatan hukum) bagi berlangsung sistem ekonomi bebas dan kompetitif, demikian Ulil.

telah dibaca : 11798

BERITA SEBELUMNYA
imageKebebasan seperti apakah yang paling penting untuk kehidupan manusia? Isaiah Berlin membagi dua jenis kebebasan dalam bukunya "Two Concept Of Liberty". Pertama adalah kebebasan negatif yaitu kondisi yang meniadakan penghalang kebebasan. Kedua adalah kebebasan positif yang mengandaikan manusia bisa bebas melakukan hal-hal yang baik dan positif. Konsep negatif di atas telah mengilhami beberapa ide yang serupa dari Friedrich Hayek, Milton Friedman, hingga Amartya Sen. Forum Freedom pada hari Kamis, 5 April 2013 menyelenggarakan diskusi untuk membahas hal tersebut bersama Robertus Robet dari Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dan Romo A. Setyo Wibawa dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Ulil Abshar Abdalla dari Freedom Institute menjadi moderator dalam diskusi kali ini.

Romo Setyo yang mendapat giliran pertama untuk berbicara. Di awal bahasannya, Romo berbicara tentang artikel Fred Mcmahon yang menjadi referensi diskusi kali ini.
imageGedung serbaguna Wisma Proklamasi di sore 23 April itu dipenuhi oleh kaum muda yang datang untuk menonton dan mendiskusikan film “Rectoverso” yang dipilih oleh kine klub kerjasama Freedom Institute dan The Japan Foundation untuk menyambut Hari Kartini. Film berdurasi 110 menit ini menarik antara lain karena menonjolnya sosok perempuan, baik yang berperan di depan kamera, dan terutama yang bekerja di belakang lensa. Berangkat dari “novel” karya Dewi Lestari (Dee), film ini menghadirkan lima cerita yang masing-masing disutradarai oleh lima perempuan yang selama ini lebih dikenal sebagai aktris. Mereka adalah Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lidya, dan Happy Salma.

Dalam diskusi yang berlangsung seru itu, peran perempuan memang sempat dibahas, tapi dengan segera topik ini mundur menyisihkan diri. Paparan yang disampaikan oleh pembicara Marcella Zalianty (produser “Rectoverso”, surtadara “Malaikat Juga Tahu”) dan Olga Lydia (sutradara “Curhat untuk Sahabat”) memancing tanggapan dari peserta diskusi untuk membahas:
imageBeberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 13 April 2013 Perpustakaan Umum Freedom menerima kunjungan dari SD, SMP serta SMK Lazuardi yang merupakan sekolah Islam yang didirikan oleh Yayasan Lazuardi Hayati yang berwawasan global dan menerapkan kurikulum internasional dari University Of Cambridge International Examinations. Yayasan Lazuardi Hayati ini berpandangan Islam progresif, mengedepankan pemahaman mengenai perbedaan dan toleransi, termasuk didalamnya dengan menerapkan sistem inklusi yang memberi kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus (special need students).

Dalam rangka memperingati Hari Buku Dunia atau yang disebut dengan World Book Day yang bertepatan pada tanggal 23 April 2013 para guru dari Sekolah Lazuardi memilih Perpustakaan Umum Freedom sebagai salah satu tujuan kunjungan. Adapun tujuan dari kunjungan kali ini adalah untuk mengenalkan para siswa pada perpustakaan.
image100 Kali sudah, Komunitas Jazz Kemayoran (KJK) telah mengadakan pertemuan bulanannya. Berarti sudah 8 tahun 4 bulan usianya kini. Dan tidak terasa juga sudah 1 tahun, KJK mengadakan pertemuannya di Wisma Proklamasi, Jl.Proklamasi no.41 Jak-Pus @freedominstitute. Tempat yang begitu asri, dan sangat cocok sekali untuk kegiatan sebuah komunitas seperti KJK ini. Dan yang terpenting Freedom Institute dan KJK memiliki visi dan misi yang sama. Ini membuat KJK seperti di rumah sendiri dan terasa sekali disupport, diapreasiasi di saat main dan tidak main.

Pertemuan seperti biasanya dimulai pada pukul 1 siang. Kali ini ada sesuatu yang berbeda. Yang biasanya, pada pukul 13.00-15.00, adalah acara Nonton Bareng, selama 2 jam penuh, dan diputarkan film Jazz yang langka, tentang sebuah tokoh, atau cerita cerita yang berkaitan dengan perkembangan dan sejarah jazz. Kali ini yang diputar adalah film “Beben Jazz- Totalitas sebuah pengabdian” (wah, film tentang saya nih).
Laporan Kegitan Freedom Institute 2011 EFN Converence Aku, Pensil This CD is a mini library of classical and modern texts that discuss and explain the beneficial effects of free societies and the institutional arrangements that underpin them Membela Hak Individu dalam Politik dan Ekonomi banner freelib banner diskusi banner penghargaan
VIDEO PROFIL


VIDEO
FOTO


Â