Bahan Untuk Jumpa Pers:
EVALUASI KEBIJAKAN PENGALIHAN SUBSIDI BBM 1 APRIL 2012
Jakarta, 13 Januari 2012
Subsidi energi, khususnya BBM di tahun 2011 telah melampaui batas kewajaran. Target penghematan premium pada tahun 2011 adalah 3,2 juta kiloliter (KL), setara Rp5,84 triliun, namun, realisasi BBM tahun 2011 justru 3,3% lebih besar dari kuota yang telah ditetapkan oleh APBN-P 2011. Subsidi energi, BBM dan listrik, meningkat dua kali lipat dari Rp140 triliun di tahun 2010 menjadi sekitar Rp250 triliun di tahun 2011, atau telah mencapai total Rp390 triliun dalam dua tahun. Proyeksi konservatif pengeluaran subsidi energi selama pemerintahan SBY dalam KIB II adalah minimum Rp700 triliun.
Pemerintah dan DPR telah membuat keputusan mengenai pembatasan Premium bersubsidi dalam APBN 2012. Penjelasan pasal 7 ayat 4 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012 mengamanatkan pemerintah melakukan pembatasan premium untuk roda empat milik pribadi di Jawa dan Bali mulai 1 April 2012. Kebijakan yang tepat dan penting ini, sayangnya, tidak didahului dengan kajian dan perencanaan yang matang serta skema kompensasi terhadap dampak yang diakibatkan oleh pembatasan tersebut. Pemerintah, melalui komentar di media massa, cenderung ragu mengenai kesiapan ekonomi pemberlakuan pengalihan premium ke pertamax di Jawa dan Bali serta persiapan infrastruktur untuk bahan bakar gas (BBG), baik itu CNG ataupun LGV sebagai alternatif.
Disisi postifinya, rencana pembatasan ini akan melepaskan tekanan berat di anggaran pemerintah. Jumlah mobil pribadi di Jawa dan Bali mencapai 8 juta. Konsumsi premium Jawa-Bali mencapai 20 juta KL, 80% dari konsumsi premium nasional. 53% terdiri dari mobil pribadi, menggunakan premium. Dengan asumsi jumlah mobil tidak tumbuh besar di tahun 2012, konsumsi premium kendaraan pribadi mencapai 10,6 juta KL, maka jika dilaksanakan sesuai rencana dan tepat waktu, penghematan yang dapat dicapai pemerintah, dengan harga keekonomian premium Rp8.200/liter adalah Rp30 triliun. Penghematan ini sekitar 20% anggaran pemerintah untuk subsidi BBM di tahun 2012.
Kebijakan ini akan menghadapi dua kendala. Pertama, masalah ekonomi menyangkut beban biaya BBM yang akan ditanggung oleh pengguna kedanraan golongan rumah tangga sederhana dan UMKM yang tidak memiliki akses pada BBG. Dampak inflasi langsung tidak terlalu besar yakni, diperkirakan minimal 1%. Namun tidak dapat dihindarkan serta dampak buruknya terhadap jutaan UMKM serta daya saingnya dengan produknya. Disamping itu, disparitas antara harga premium, disel dan pertamax dapat memicu adanya perpindahan kendaraan ke disel atau motor dan penjualan premium subsidi di pasar bebas. Kedua, masalah teknis BBG, pemerintah perlu memastikan penyediaan BBG seperti CNG dan/atau LGV di setiap SPBG, pemerataan pembangunan SPBG beserta infrastrukturnya, kepastian supply chain BBG ke SPBG, serta penyediaan converter kit untuk mobil pribadi. Pemerintah juga belum melakukan sosialisasi safety education bagi pengguna serta kajian mengenai penggunaan BBG dan LGV dalam jangka waktu lama terhadap reliability mesin. Pemerintah juga masih terlihat ambivalen dalam memilih antara LGV (turunan minyak) dan CNG (dari gas alam).
Atas dasar pertimbangan tersebut, kami memberikan rekomendasi sebagai berikut: 1) Pemerintah perlu menyiapkan insentif kepada UMKM dalam bentuk, misalnya subsidi pertamax sesuai daya beli atau yang lebih realistis memberikan subisidi premium sementara kepada UMKM dengan perubahan warna plat kendaraan UMKM atau menggunakan sebagian dana penghematan subsidi tersebut untuk memberikan insentif dana kepada UMKM hingga akses kepada BBG dapat diberikan. Mengingat rumitnya permasalahan tersebut, untuk itu Pemerintah perlu meninjau ulang pelaksanaan kebijakan 1 April 2012; 2) Melakukan konversi BBM ke BBG secara gradual dengan mempersiapkan industri converter kit domestik, melakukan safety education, serta standarisasi komponen converter kit, instalasi, sertifikasi teknisi, perawatan, kualitas BBG serta memastikan garansi ATPM tetap berlaku. Pemerintah perlu mendorong pembangunan converter kit dalam negeri dan memanfaatkan hasil-hasil riset mengenai BBG yang telah dilakukan di lingkungan universitas atau lembaga riset lainnya. Pengembangan BBG memerlukan waktu yang cukup dan tidak dapat dipaksanakan kepada BUMN yang bukan merupakan kompetensinya. Dalam jangka waktu 1-2 tahun kedepan Indonesia akan dapat memenuhi kebutuhan converter dalam negeri dengan harga yang lebih murah.
Jakarta, 13 Januari 2012
Anggito Abimanyu (UGM)
Jayan Sentanuhady (UGM)
Gumilang Arya Sahadewa (UGM)
Uka Wukarya (UI)
Shauqie Azar (UI)
Mohammad Dian Revindo (UI)
Bahan persentasi 13 Januari 2012
Iklan Freedom Institute - Kompas, 26 Februari 2005 "Mengapa Kami Mendukung Pengurangan Subsidi BBM?"
telah dibaca : 2827
Kebebasan seperti apakah yang paling penting untuk kehidupan manusia? Isaiah Berlin membagi dua jenis kebebasan dalam bukunya "Two Concept Of Liberty". Pertama adalah kebebasan negatif yaitu kondisi yang meniadakan penghalang kebebasan. Kedua adalah kebebasan positif yang mengandaikan manusia bisa bebas melakukan hal-hal yang baik dan positif. Konsep negatif di atas telah mengilhami beberapa ide yang serupa dari Friedrich Hayek, Milton Friedman, hingga Amartya Sen. Forum Freedom pada hari Kamis, 5 April 2013 menyelenggarakan diskusi untuk membahas hal tersebut bersama Robertus Robet dari Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dan Romo A. Setyo Wibawa dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Ulil Abshar Abdalla dari Freedom Institute menjadi moderator dalam diskusi kali ini.Romo Setyo yang mendapat giliran pertama untuk berbicara. Di awal bahasannya, Romo berbicara tentang artikel Fred Mcmahon yang menjadi referensi diskusi kali ini.
Gedung serbaguna Wisma Proklamasi di sore 23 April itu dipenuhi oleh kaum muda yang datang untuk menonton dan mendiskusikan film “Rectoverso” yang dipilih oleh kine klub kerjasama Freedom Institute dan The Japan Foundation untuk menyambut Hari Kartini. Film berdurasi 110 menit ini menarik antara lain karena menonjolnya sosok perempuan, baik yang berperan di depan kamera, dan terutama yang bekerja di belakang lensa. Berangkat dari “novel” karya Dewi Lestari (Dee), film ini menghadirkan lima cerita yang masing-masing disutradarai oleh lima perempuan yang selama ini lebih dikenal sebagai aktris. Mereka adalah Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lidya, dan Happy Salma.Dalam diskusi yang berlangsung seru itu, peran perempuan memang sempat dibahas, tapi dengan segera topik ini mundur menyisihkan diri. Paparan yang disampaikan oleh pembicara Marcella Zalianty (produser “Rectoverso”, surtadara “Malaikat Juga Tahu”) dan Olga Lydia (sutradara “Curhat untuk Sahabat”) memancing tanggapan dari peserta diskusi untuk membahas:
Beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 13 April 2013 Perpustakaan Umum Freedom menerima kunjungan dari SD, SMP serta SMK Lazuardi yang merupakan sekolah Islam yang didirikan oleh Yayasan Lazuardi Hayati yang berwawasan global dan menerapkan kurikulum internasional dari University Of Cambridge International Examinations. Yayasan Lazuardi Hayati ini berpandangan Islam progresif, mengedepankan pemahaman mengenai perbedaan dan toleransi, termasuk didalamnya dengan menerapkan sistem inklusi yang memberi kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus (special need students).Dalam rangka memperingati Hari Buku Dunia atau yang disebut dengan World Book Day yang bertepatan pada tanggal 23 April 2013 para guru dari Sekolah Lazuardi memilih Perpustakaan Umum Freedom sebagai salah satu tujuan kunjungan. Adapun tujuan dari kunjungan kali ini adalah untuk mengenalkan para siswa pada perpustakaan.
100 Kali sudah, Komunitas Jazz Kemayoran (KJK) telah mengadakan pertemuan bulanannya. Berarti sudah 8 tahun 4 bulan usianya kini. Dan tidak terasa juga sudah 1 tahun, KJK mengadakan pertemuannya di Wisma Proklamasi, Jl.Proklamasi no.41 Jak-Pus @freedominstitute. Tempat yang begitu asri, dan sangat cocok sekali untuk kegiatan sebuah komunitas seperti KJK ini. Dan yang terpenting Freedom Institute dan KJK memiliki visi dan misi yang sama. Ini membuat KJK seperti di rumah sendiri dan terasa sekali disupport, diapreasiasi di saat main dan tidak main.Pertemuan seperti biasanya dimulai pada pukul 1 siang. Kali ini ada sesuatu yang berbeda. Yang biasanya, pada pukul 13.00-15.00, adalah acara Nonton Bareng, selama 2 jam penuh, dan diputarkan film Jazz yang langka, tentang sebuah tokoh, atau cerita cerita yang berkaitan dengan perkembangan dan sejarah jazz. Kali ini yang diputar adalah film “Beben Jazz- Totalitas sebuah pengabdian” (wah, film tentang saya nih).






