Catatan Host/MC Freedom Jazz
Rekapitulasi pertemuan KJK ke 88 s/d 92
Tidak ada kata lain yang lebih pantas untuk diucapkan selain “Alhamdulillah. Luar biasa!” Akhirnya Komunitas Jazz Kemayoran (KJK) mendapatkan tempat yang sesuai untuk menuangkan segala kreatifitasnya. Di tempat tersebut, yaitu Taman Wisma Proklamasi, Freedom Institute, para penampil bisa sangat diterima dan dihargai, dan semua bentuk ekspresinya mendapat sambutan yang baik. Atmosfir jazzy. di sana didukung oleh oleh lingkungan fisik berupa taman rimbun dan bangunan lapang minimalis.Di sana terdapat juga Warung Kopi Proklamasi, sebuah caffe yang unik yang menyediakan sejumlah makanan tradisional dan penganan dari negeri luar dengan harga yang terjangkau. Terdapat juga perpustakaan umum Freedom Institute, yang rencananya akan menjadi salah satu perpustakaan jazz di Jakarta. Aula yang nyaman untuk workshop, seminar, dan nonton film bareng, dibangun berdekatan dengan taman asri di mana pertunjukkan dan jam session berlangsung. Hanya satu kata “Datanglah …” Niscaya sore anda, malam anda, akan dimanjakan dengan suasana dan alunan musik Jazz yang semuanyanya bisa dinikmati dengan gratis, dan terbuka untuk umum.
Tak terasa Pertemuan KJK sudah dilaksanakan selama 5 bulan di sana, sejak pertemuan ke-88 pada hari Sabtu 20 Agustus 2011, yang sekaligus adalah ajang Buka Puasa Bersama Freedom Institute. Kejadian ini, tentu saja merupakan hal yang baik. Di bulan yang baik, KJK dan Freedom, bersama memulai serangkaian kegiatan yang positif. Pertemuan terakhir di tahun 2011, jatuh pada hari Jumat 23 Desember, 8 hari menjelang tutup tahun.
Total jenderal ada 41 band yang telah mensupport acara pertemuan tersebut. Pada pertemuan ke 88 ada 7 Band, pertemuan ke 89 ada 8 Band, pertemuan ke 90 ada 9 band, pertemuan ke 91 ada 9 band, dan pertemuan ke 92 ada 8 band. Beberapa di antara pendukung acara itu adalah:
- Inna Kamarie
- Beben Jazz
- Tembang Pribumi
- Ocean Blue
- E3
- RGP
- Live at Wonderland
- Edward Simanjuntak’s Feat
- Thisi
- Fe’Icha & Friends
- Mind
- Hajarbleh bigband
- UI Bigband
- Sentimental Mood
- Ledoroots
- Kosakata
- Aboda
- Night Oversoul
- Birdwing Butterfly
- ALTO FEMMES
- Slodyoz
- Kathnov
- Tiga Mawarnih
- Dangu
- Atar and Rahel
- Lanie and Rangga
- Laconieck
- Nilakandi
- Exito
- the/Lima
- October Jamin
- Nanti and friends
- Utak Atik
- 10 A.M
- Double Trouble
- RNF
- Maleo Nantha, dll.
Acara Jazz KJK di Freedom ini punya dua ciri. Pertama, seluruh program diawali dengan acara nonton film bareng selama 2-3 jam. Beberapa di antara film yang pernah diputar adalah Benny Goodman Story, Glenn Miller Story, For the Love or Country, dan Ladies Sing the Blues. Ciri yang kedua adalah bahwa seluruh program ditutup dengan jam session. Di sela-sela acara itu disisipkanlah masukan edukasional tentang tantangan kehidupan, sejarah dan makna jazz, serta musik secara umum, yang sering dilontarkan oleh Host/MC. Semuan ini berakar pada konsep acara Freedom Jazz yakni, “Nonton Film Bareng, Perform, Edukasi, dan Jam Session”.
Dalam setiap pagelaran “Freedom Jazz”, yang berintikan pertemuan bulanan Komunitas Jazz Kemayoran (KJK) ini, tersaji keanekaragaman musik Jazz. Semua genre di dalam Jazz, mulai dari Ragtime, New Orleans Jazz, Swing, Bebop, Cool Jazz, West Coast Jazz, Hardbop, Free Improvisation, Avant Garde, Fusion, hingga Acid Jazz, Pop Jazz, serta Latin Jazz, semuanya mungkin muncul di pentas. Setiap bulan sejumlah genre dimainkan oleh para penampil yang 80% adalah anak anak muda. Banyaknya orang muda ini juga mengoreksi pendapat masyarakat yang suka menganggap Jazz adalah musiknya orang tua. Selain mayoritas anak-anak muda, para penampil di Freedom Jazz juga datang dari berbagai lapisan sosial. Kenyataan ini membuat misi “JAZZ UNTUK SEMUA” terasa benar-benar terwujud.
Para pengunjung Freedom Jazz akan mendapatkan sebuah silaturrahmi yang indah, yang cair dan tak memilah-milah antara anggota baru dan lama, antara junior dan senior, antara pengunjung dan pemain dengan berbagai status sosial yang mungkin ada. Semua peserta mendapat kesempatan dan perlakuan yang sama, tak ada yang dilebih lebihkan. Semua sajian dihargai. Unsur-unsur ini membuat suasana Freedom Jazz terasa nyaman. Baik pemain maupun anggota yang tidak bermain dan hanya menonton, semuanya mendapatkan kebebasan yang setara. Itulah suasana yang tercipta di Freedom Jazz ? Freedom dalam arti sebenarnya, sesuai dengan salah satu filosofi Jazz yaitu “Improvisasi adalah manifestasi dari suatu kebebasan yang dilakukan spontan”. Dan dengan membiarkan masing masing pemain menjadi dirinya sendiri.
Datanglah ke Freedom Jazz. Mari dekati Jazz dengan cara yang kita suka, karena Jazz itu sendiri juga membiarkan kita mendekati dengan cara kita masing masing yang kita anggap nyaman. Mari nikmati suguhan Jazz yang berkualitas, yang selain menghibur juga memperluas wawasan kita lewat musik dan sejarahnya, serta tentunya sambil bersilaturrahmi dengan Penggila Jazz lainnya.
Freedom Jazz disupport oleh Komunitas Jazz Kemayoran. Dan selalu akan membawa misi Brotherhood yang berwatak Educative & Useful.
Sampai jumpa di pertemuan berikut.
Salam Jazz
BEBEN JAZZ
telah dibaca : 3172
BERITA SEBELUMNYA
Kebebasan seperti apakah yang paling penting untuk kehidupan manusia? Isaiah Berlin membagi dua jenis kebebasan dalam bukunya "Two Concept Of Liberty". Pertama adalah kebebasan negatif yaitu kondisi yang meniadakan penghalang kebebasan. Kedua adalah kebebasan positif yang mengandaikan manusia bisa bebas melakukan hal-hal yang baik dan positif. Konsep negatif di atas telah mengilhami beberapa ide yang serupa dari Friedrich Hayek, Milton Friedman, hingga Amartya Sen. Forum Freedom pada hari Kamis, 5 April 2013 menyelenggarakan diskusi untuk membahas hal tersebut bersama Robertus Robet dari Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dan Romo A. Setyo Wibawa dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Ulil Abshar Abdalla dari Freedom Institute menjadi moderator dalam diskusi kali ini.Romo Setyo yang mendapat giliran pertama untuk berbicara. Di awal bahasannya, Romo berbicara tentang artikel Fred Mcmahon yang menjadi referensi diskusi kali ini.
Gedung serbaguna Wisma Proklamasi di sore 23 April itu dipenuhi oleh kaum muda yang datang untuk menonton dan mendiskusikan film “Rectoverso” yang dipilih oleh kine klub kerjasama Freedom Institute dan The Japan Foundation untuk menyambut Hari Kartini. Film berdurasi 110 menit ini menarik antara lain karena menonjolnya sosok perempuan, baik yang berperan di depan kamera, dan terutama yang bekerja di belakang lensa. Berangkat dari “novel” karya Dewi Lestari (Dee), film ini menghadirkan lima cerita yang masing-masing disutradarai oleh lima perempuan yang selama ini lebih dikenal sebagai aktris. Mereka adalah Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lidya, dan Happy Salma.Dalam diskusi yang berlangsung seru itu, peran perempuan memang sempat dibahas, tapi dengan segera topik ini mundur menyisihkan diri. Paparan yang disampaikan oleh pembicara Marcella Zalianty (produser “Rectoverso”, surtadara “Malaikat Juga Tahu”) dan Olga Lydia (sutradara “Curhat untuk Sahabat”) memancing tanggapan dari peserta diskusi untuk membahas:
Beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 13 April 2013 Perpustakaan Umum Freedom menerima kunjungan dari SD, SMP serta SMK Lazuardi yang merupakan sekolah Islam yang didirikan oleh Yayasan Lazuardi Hayati yang berwawasan global dan menerapkan kurikulum internasional dari University Of Cambridge International Examinations. Yayasan Lazuardi Hayati ini berpandangan Islam progresif, mengedepankan pemahaman mengenai perbedaan dan toleransi, termasuk didalamnya dengan menerapkan sistem inklusi yang memberi kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus (special need students).Dalam rangka memperingati Hari Buku Dunia atau yang disebut dengan World Book Day yang bertepatan pada tanggal 23 April 2013 para guru dari Sekolah Lazuardi memilih Perpustakaan Umum Freedom sebagai salah satu tujuan kunjungan. Adapun tujuan dari kunjungan kali ini adalah untuk mengenalkan para siswa pada perpustakaan.
100 Kali sudah, Komunitas Jazz Kemayoran (KJK) telah mengadakan pertemuan bulanannya. Berarti sudah 8 tahun 4 bulan usianya kini. Dan tidak terasa juga sudah 1 tahun, KJK mengadakan pertemuannya di Wisma Proklamasi, Jl.Proklamasi no.41 Jak-Pus @freedominstitute. Tempat yang begitu asri, dan sangat cocok sekali untuk kegiatan sebuah komunitas seperti KJK ini. Dan yang terpenting Freedom Institute dan KJK memiliki visi dan misi yang sama. Ini membuat KJK seperti di rumah sendiri dan terasa sekali disupport, diapreasiasi di saat main dan tidak main.Pertemuan seperti biasanya dimulai pada pukul 1 siang. Kali ini ada sesuatu yang berbeda. Yang biasanya, pada pukul 13.00-15.00, adalah acara Nonton Bareng, selama 2 jam penuh, dan diputarkan film Jazz yang langka, tentang sebuah tokoh, atau cerita cerita yang berkaitan dengan perkembangan dan sejarah jazz. Kali ini yang diputar adalah film “Beben Jazz- Totalitas sebuah pengabdian” (wah, film tentang saya nih).






