20 Mei 2013
  • Yahoo Messenger

freedom institute » CENTER FOR DEMOCRACY, NATIONALISM, AND MARKET ECONOMY STUDIES

ZIARAH KE PULAU BAHU;
PELABUHAN, FREE MARKET DAN DISTRIBUSI KESEJAHTERAAN


image



Oleh: billy Kusuma Ariez
Penulis Alumni Akmer 3 CO Fasilitator pada replika akmer kendari

Pada awalnya saya menyangka hanya iseng, ketika seorang kawan YFN, Jaylani, mengajak untuk memancing di tengah laut sambil bakar ikan di sebuah pulau terpencil. “Ah gak ah... Saya gak ikut, mending tidur aja sambil nonton TV”, Jawabku. Tapi bayangan asyiknya “mancing mania” dan keelokan sebuah pulau akhirnya membuyarkan rencanaku untuk istirahat. Setelah persiapan seadanya, berangkatlah kami ke Pelabuhan Nusantara, pelabuhan utama di Kota Kendari, tempat memulai ekspedisi ke pulau Bahu. Setiba di pelabuhan, sebuah perahu 'wisata' telah menunggu dan siap mengantar kami ke Pulau Bahu.

Pelabuhan dimana-mana selalu sama. Dia acuh tak acuh dengan segala sangkaan orang. Pelabuhan selalu narzis dengan kapasitas yang dimilikinya, angkuh dengan kemampuannya mendistribusikan kemakmuran kepada semua orang. Pelabuhan selalu bangga menjadi bagian penting dalam sejarah panjang pasar bebas. Dia tidak peduli terhadap latar belakang suku, agama, warna kulit dan keyakinan yang dimiliki penggunanya. Dia terus menjalankan fungsinya sebagai pemintal kekayaan dan penggerak roda perekonomian suatu bangsa. Pelabuhan Nusantara di Kendari sama dengan pelabuhan-pelabuhan lainnya di Nusantara. Dia menjadi mata rantai kemajuan peradaban umat manusia. Sama fungsi dengan Pelabuhan Sunda Kelapa yang sejak tahun 1527 telah menjadi back bone ekonomi kerajaan Pajajaran, atau pelabuhan-pelabuhan di semenanjung Malaya Tenggara, mendistribusikan ribuan komoditas para pedagang yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, Asia selatan dan Asia Timur.

Dari pelabuhan Kendari, perahu membawa kami menuju pulau Bahu. Pada awalnya perahu bergerak dengan landai dan tenang. Tidak ada kekhawatiran sama sekali. Tidak ada ombak dan gelombang datang menerpa. Suasana begitu tenang seperti saat sesi perkenalan dalam pembukaaan workshop climate change dan free market sehari sebelumnya; tanpa gejolak, tanpa sikap mempertanyakan. Tiba tiba saat perahu telah melewati Teluk, ombak datang menerjang dan menerpa perahu nelayan yang kami tumpangi. Hantaman ombak yang datang silih berganti bersaut sama kuatnya dengan penolakan atas gagasan free market pada awal penyampaian materi kami kepada peserta. Gagasan-gagasan dan argumentasi silih berganti bersaut dan sambung menyambung dalam dinamika forum yang keras dan argumentatif. Peserta workshop yang telah memiliki ‘suatu pandangan’ tersedak bangun menghadapi nilai-nilai baru free market yang menderu dalam ruang ilmiah. Semua kayakinan lama diaduk dan ditabrak dalam ruang rasional yang benderang. Pertumbuhan Ekonomi, kemakmuran, dan kesejahteraan telah membukakan mata para penumpang perahu akan keniscayaan sebuah free market. Bagi kami deburan ombak, olengnya perahu nelayan dan perasaan waswas dalam ‘membuka pikiran baru’ (open mind) adalah perjalanan panjang menuju kebahagiaan dan kesejahteraan.

Akhirnya perjalanan yang menegangkan selama kurang lebih 2 jam telah berakhir. Perahu nelayan yang kami tumpangi mendekat ke arah cahaya lampu nelayan di kampung pulau Bahu. Deretan panjang pasir putih, lambaian pohon kelapa, serta birunya air laut dibawah cahaya purnama menyambut kami dengan suka cita laksana seorang Ludwig Von Mises menemukan kembali liberalisme. Ketegangan menghadapi ombak yang membawa kapal nelayan terombang ambing selama perjalanan yang membuat penumpang berteriak, seolah-olah sama dengan kepuasan mendedehkan argumentasi nilai-nilai kebebasan, rule of the law, toleransi dan free market, melawan nilai-nilai lama komunisme dan totalitarianisme, Law and order, serta kebijakan proteksionisme.

Karena tak kuat menahan rasa dingin yang mulai mencengkeram, kami akhirnya menyalahkan api unggun sambil membakar ikan. Melalui pembagian kerja, kami menjalankan peran dan fungsi masing-masing lebih efektif. Ada yang mulai mengumpulkan kayu bakar, menyiapkan panggangan ikan, mengambil cabe dan bumbu-bumbu ikan, sementara beberapa orang lainnya memasak nasi. Setengah jam kemudian kami menyantap ikan bakar hasil kerja keras yang telah kami lakukan. Hhhmmmmm.... nyam... nyam.... dengan penuh kenikmatan kami menyantap menu makan malam kami. Tapi sebenarnya bukan hanya ikan bakar yang kami nikmati. Yang lebih membuat kami merasa nikmat adalah semakin kuatnya pandangan kami, bahwa pembagian kerja merupakan sistem yang dapat membawa kami mewujudkan kesejahteraan. Pembagian kerja telah membawa penemuan-penemuan (inovasi) dalam sejarah perkembangan umat manusia. Melalui pembagian kerja pula setiap individu dapat meraih kebebasan dan mewujudkan impian-impiannya.

Malam telah larut... bulan purnama telah lewat. Setelah bercengkerama dan berbagi cerita kami beranjak ke tempat tidur di rumah warga yang kami sewa. Satu persatu lampu di rumah warga pulau Bahu padam seiring dengan terlelapnya penghuni rumah. Kami yakin sekalipun mereka tinggal disebuah pulau terpencil yang berjarak ratusan kilo meter dari pusat kota dan tidak bercocok tanam, esok pagi mereka pasti dapat menikmati sarapan pagi dengan nasi, memasak masakan istimewa dan dapat membeli kebutuhan keluarga karena adanya keajaiban perdagangan. Perdagangan telah mampu membuat

hidup 70 kepala keluarga penghuni pulau Bahu menikmati keuntungan. Tanpa adanya proteksi, semua nelayan di pulau buru dapat bebas menjual ikan hasil tangkapannya kepada tengkulak yang telah menunggu hasil tangkapan mereka di pelabuhan ikan. Disaat bersamaan setiap nelayan dapat menjaga ekosistem dan terumbu karang yang berada di sekitar pulau sebagi property righ. Property Righ harus dijaga bukan hanya disebabkan itu merupakan hak dasar yang mereka miliki, namun dengan kepemilikikan atas hak-hak dasar tersebut mereka dapat mengakumulasi keuntungan, dan juga menikmati tangkapan ikan yang banyak. Mereka mungkin belum tahu tentang climate change, free market, REDD+, tapi mereka merupakan bagian dari ribuan bahkan jutaan orang dari berbagai Community Organizer (CO) yang bahu membahu melakukan kajian, seminar dan workshop untuk menjaga kelestarian alam dengan tetap menikmati perdagangan bebas yang telah mensejahterakan umat manusia.

Jam telah menunjukkan angka 08.00 WITA, saat perahu nelayan membawa kami kembali pulang ke hotel Atthaya tempat kami menggelar liberal workshop on climate change for student. Kami menikmati perjalanan pulang dengan rasa bahagia. Melihat lalu lalang kapal nelayan yang mengangkut aneka ragam barang dari pelabuhan ke pulau-pulau terpencil. Sementara di pelabuhan, suasananya masih tetap sama. Hiruk pikuk para pekerja yang mengangkut berton ton barang dan komuditas. Kapal-kapal besar menurunkan jangkarnya untuk bersandar di dermaga mengantri saat tiba waktu menurunkan muatannya. Sementara perahu-perahu kecil mengangkut penumpang dengan barang-barang bawaannya dengan penuh keceriaan. Hiruk pikuk suasana pelabuhan yang ramai tidak memperdulikan kahadiran kami, Walaupun begitu kami merasa puas, sebab kami menyaksikan bahwa pasar bebas yang selama ini telah berlangsung pasti membawa kepada kesejahteraan.

telah dibaca : 1619

BERITA SEBELUMNYA
imageKebebasan seperti apakah yang paling penting untuk kehidupan manusia? Isaiah Berlin membagi dua jenis kebebasan dalam bukunya "Two Concept Of Liberty". Pertama adalah kebebasan negatif yaitu kondisi yang meniadakan penghalang kebebasan. Kedua adalah kebebasan positif yang mengandaikan manusia bisa bebas melakukan hal-hal yang baik dan positif. Konsep negatif di atas telah mengilhami beberapa ide yang serupa dari Friedrich Hayek, Milton Friedman, hingga Amartya Sen. Forum Freedom pada hari Kamis, 5 April 2013 menyelenggarakan diskusi untuk membahas hal tersebut bersama Robertus Robet dari Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dan Romo A. Setyo Wibawa dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Ulil Abshar Abdalla dari Freedom Institute menjadi moderator dalam diskusi kali ini.

Romo Setyo yang mendapat giliran pertama untuk berbicara. Di awal bahasannya, Romo berbicara tentang artikel Fred Mcmahon yang menjadi referensi diskusi kali ini.
imageGedung serbaguna Wisma Proklamasi di sore 23 April itu dipenuhi oleh kaum muda yang datang untuk menonton dan mendiskusikan film “Rectoverso” yang dipilih oleh kine klub kerjasama Freedom Institute dan The Japan Foundation untuk menyambut Hari Kartini. Film berdurasi 110 menit ini menarik antara lain karena menonjolnya sosok perempuan, baik yang berperan di depan kamera, dan terutama yang bekerja di belakang lensa. Berangkat dari “novel” karya Dewi Lestari (Dee), film ini menghadirkan lima cerita yang masing-masing disutradarai oleh lima perempuan yang selama ini lebih dikenal sebagai aktris. Mereka adalah Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lidya, dan Happy Salma.

Dalam diskusi yang berlangsung seru itu, peran perempuan memang sempat dibahas, tapi dengan segera topik ini mundur menyisihkan diri. Paparan yang disampaikan oleh pembicara Marcella Zalianty (produser “Rectoverso”, surtadara “Malaikat Juga Tahu”) dan Olga Lydia (sutradara “Curhat untuk Sahabat”) memancing tanggapan dari peserta diskusi untuk membahas:
imageBeberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 13 April 2013 Perpustakaan Umum Freedom menerima kunjungan dari SD, SMP serta SMK Lazuardi yang merupakan sekolah Islam yang didirikan oleh Yayasan Lazuardi Hayati yang berwawasan global dan menerapkan kurikulum internasional dari University Of Cambridge International Examinations. Yayasan Lazuardi Hayati ini berpandangan Islam progresif, mengedepankan pemahaman mengenai perbedaan dan toleransi, termasuk didalamnya dengan menerapkan sistem inklusi yang memberi kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus (special need students).

Dalam rangka memperingati Hari Buku Dunia atau yang disebut dengan World Book Day yang bertepatan pada tanggal 23 April 2013 para guru dari Sekolah Lazuardi memilih Perpustakaan Umum Freedom sebagai salah satu tujuan kunjungan. Adapun tujuan dari kunjungan kali ini adalah untuk mengenalkan para siswa pada perpustakaan.
image100 Kali sudah, Komunitas Jazz Kemayoran (KJK) telah mengadakan pertemuan bulanannya. Berarti sudah 8 tahun 4 bulan usianya kini. Dan tidak terasa juga sudah 1 tahun, KJK mengadakan pertemuannya di Wisma Proklamasi, Jl.Proklamasi no.41 Jak-Pus @freedominstitute. Tempat yang begitu asri, dan sangat cocok sekali untuk kegiatan sebuah komunitas seperti KJK ini. Dan yang terpenting Freedom Institute dan KJK memiliki visi dan misi yang sama. Ini membuat KJK seperti di rumah sendiri dan terasa sekali disupport, diapreasiasi di saat main dan tidak main.

Pertemuan seperti biasanya dimulai pada pukul 1 siang. Kali ini ada sesuatu yang berbeda. Yang biasanya, pada pukul 13.00-15.00, adalah acara Nonton Bareng, selama 2 jam penuh, dan diputarkan film Jazz yang langka, tentang sebuah tokoh, atau cerita cerita yang berkaitan dengan perkembangan dan sejarah jazz. Kali ini yang diputar adalah film “Beben Jazz- Totalitas sebuah pengabdian” (wah, film tentang saya nih).
Laporan Kegitan Freedom Institute 2011 EFN Converence Aku, Pensil This CD is a mini library of classical and modern texts that discuss and explain the beneficial effects of free societies and the institutional arrangements that underpin them Membela Hak Individu dalam Politik dan Ekonomi banner freelib banner diskusi banner penghargaan
VIDEO PROFIL


VIDEO
FOTO


Â