PERPUSTAKAAN FREEDOM
Detail Buku
Tractatus logico-philosophicus
Penulis:
Wittgenstein, Ludwig
Penerbit: London : Routledge, c1974
Kolasi: xxii, 89 hal.
No. DDC : 190
No. Urut: (065)
Subjek: Filsafat Barat Modern
Ringkasan:
Diterbitkan pertama kali tahun 1921 dan merupakan satu-satunya karya filsafat yang diterbitkan Wittgenstein selama hidupnya, buku ini mungkin merupakan karya filsafat paling penting yang ditulis pada abad ke duapuluh. Ditulis dalam paragraf-paragraf yang pendek, padat, brilian dan dinomori secara hati-hati, Tractatus Logico-Philosophicus dengan segera meyakinkan dan memikat imajinasi dan pemikiran para pembacanya. Pengaruh utama dari buku ini, pertama-tama, adalah pada kaum Positivis Logis dekade 1920-an dan 1930-an, namun banyak pemikir dan filosof lain juga dirangsang oleh filsafat bahasanya, dan menganggap pandangannya bahwa proposisi merupakan gambaran realitas sebagai suatuu pandangan yang menantang, meski pada akhirnya kurang memuaskan. Wittgenstein sendiri, setelah kembalinya ke filsafat pada akhir tahun 1920-an, terpesona oleh visinya tentang suatu dunia hubungan logis yang tak-terungkapkan dan padu.
Penulis:
Wittgenstein, LudwigPenerbit: London : Routledge, c1974
Kolasi: xxii, 89 hal.
No. DDC : 190
No. Urut: (065)
Subjek: Filsafat Barat Modern
Ringkasan:
Diterbitkan pertama kali tahun 1921 dan merupakan satu-satunya karya filsafat yang diterbitkan Wittgenstein selama hidupnya, buku ini mungkin merupakan karya filsafat paling penting yang ditulis pada abad ke duapuluh. Ditulis dalam paragraf-paragraf yang pendek, padat, brilian dan dinomori secara hati-hati, Tractatus Logico-Philosophicus dengan segera meyakinkan dan memikat imajinasi dan pemikiran para pembacanya. Pengaruh utama dari buku ini, pertama-tama, adalah pada kaum Positivis Logis dekade 1920-an dan 1930-an, namun banyak pemikir dan filosof lain juga dirangsang oleh filsafat bahasanya, dan menganggap pandangannya bahwa proposisi merupakan gambaran realitas sebagai suatuu pandangan yang menantang, meski pada akhirnya kurang memuaskan. Wittgenstein sendiri, setelah kembalinya ke filsafat pada akhir tahun 1920-an, terpesona oleh visinya tentang suatu dunia hubungan logis yang tak-terungkapkan dan padu.