19 Mei 2013
  • Yahoo Messenger

freedom institute » CENTER FOR DEMOCRACY, NATIONALISM, AND MARKET ECONOMY STUDIES


APA KATA MEREKA

"Di kalangan kaum muda, kehausan akan gagasan dan inspirasi merupakan suatu hal yang cenderung diabaikan oleh para analis sosial dan tidak ditulis oleh para jurnalis. Hal ini patut disayangkan, karena dari kehausan seperti itulah para pemimpin politik, intelektual publik, aktivis sosial di dunia ketiga meneguhkan diri mereka. Di Jakarta, anda bisa melihat fenomena itu dalam seminar, diskusi, dan peluncuran buku yang digelar di Freedom Institute." Goenawan Mohamad, Sastrawan.

“Budaya politik Indonesia dapat dikatakan merupakan salah satu budaya yang paling menentang gagasan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran bersama dapat dihasilkan oleh pasar terbuka. Dengan para pemikirnya yang mumpuni, publikasi yang bagus, diskusi dan seminar yang mendalam, serta rekomendasi kebijakannya yang cemerlang, Freedom Institute telah membuat suatu kemajuan yang nyata dalam mengikis penentangan ini dan dengan demikian memajukan kebebasan.” R. William Liddle, ilmuwan politik dari The Ohio State University

“Sejak berdiri pada 2001 Freedom Institute sangat aktif dalam mensponsori dan menyelenggarakan penelitian, seminar, pelatihan, penerjemahan buku dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, serta penerbitan buku-buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Freedom Institute juga membangun sebuah perpustakaan yang terbuka untuk umum dengan koleksi lebih dari 8000 buku. Melalui berbagai kegiatannya, Freedom Institute memberikan suatu sumbangan besar pada masyarakat Indonesia dalam menyebaluaskan gagasan tentang demokrasi, nasionalisme and ekonomi pasar.”Thee Kian Wie, ahli ekonomi, peneliti LIPI.

"Di negeri yang serba setengah-setengah, Ketika berbagai hal tak sebaik tampaknya, Juga tak seburuk tampaknya, Freedom Institute coba menjaga sebuah hak yang sebagian besar orang baru sadar hanya ketika ia hilang." Nono Anwar Makarim, Ketua Yayasan Aksara.

"Pada zaman ketika kebebasan dan martabat manusia terancam oleh fanatisme ideologis dan intoleransi, kejamnya keserakahan ekonomi, penindasan, serta korupsi yang tak mengenal batas, kita sangat membutuhkan suatu organisasi seperti Freedom Institute. Lembaga ini menganggap kebebasan sebagai nilai utama martabat manusia. Dengan mendorong keterbukaan dan iklim intelektual yang memajukan wacana publik, dan dengan menyediakan begitu banyak informasi bagi publik, Freedom Institute menjadi salah satu pilar terpenting masyarakat sipil Indonesia."Franz Magnis-Suseno, filsuf di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

"Melalui diskusi, seminar, perpustakaan, dan penerbitan bukunya, Freedom Institute telah menjadi salam satu pemain utama dalam wacana demokrasi dan liberalisme ekonomi di Indonesia. Freedom Institute telah banyak membantu saya dan banyak peneliti lainnya, dan memungkinkan kami menjadi bagian dari jaringan pemikiran dan gagasan intelektual yang sangat dinamis." Julie Chernov, University of Colorado-Boulder, Ilmu Politik.

"Freedom Institute menjadi tempat utama bagi saya untuk menyelesaikan penelitian doktoral saya. Selain koleksi buku perpustakaan Freedom Institute yang sangat bagus, staf-stafnya sangat terdidik dan memunyai banyak hubungan dengan tokoh-tokoh penting di Indonesia sekarang ini. Sponsor dan para pekerja Freedom Institute sangat layak dipuji karena sumbangsih mereka yang begitu besar bagi masyarakat sipil Indonesia." Thomas Pepinsky, Yale University, Ilmu Politik.

"Freedom Institute adalah harta yang tak-ternilai. Berbagai macam program dan kegiatannya sangat membantu mahasiswa-mahasiswa doktoral dalam melakukan peneitian yang mendalam. Dukungan dari Freedom Institute memungkinkan saya menyelesaikan bidang kajian saya dengan lebih efisien dan efektif. Untuk itu semua, saya sangat berterima kasih." Jennifer L. Epley, University of Michigan, Ilmu Politik.


ARTIKEL STAF
27 Agustus 2010
“Autopoiesis” Takdir
Bentara--KOMPAS,Kamis, 8 Mei 2008
26 Agustus 2010
La Galigo, Odisei, Trah Buendia
KOMPAS — Millennium Edition, Sabtu, 1 Januari 2000
25 Agustus 2010
La Galigo, Odyssey, Buendia Family
KOMPAS — Millennium Edition, Sabtu, 1 Januari 2000
19 Agustus 2010
Lapis Waktu
KOMPAS, Sabtu 4 Februari 2006
17 Februari 2009
Israel antara Shake speare dan Chekov
Edisi. 29/XXXIX/16 - 22 Februari 2009
15 September 2008
Kap atau Kon, Mal atau Mol
Edisi. 37/XXXV/06 - 12 November 2006
15 September 2008
Pelukis Merupakan Celeng
Edisi. 40/XXXIV/28 November - 04 Desember 2005
15 September 2008
Jalan Setapak Berduri
Edisi. 44/XXXII/29 Desember - 04 Januari 2004
15 September 2008
Tarian Kursi dan Bayangan
Edisi. 32/XXX/08 - 14 Oktober 2001
ARTIKEL STAF LAINNYA
27 Agustus 2010
Waktu Imajiner, Ruang Berdimensi 11, dll.
Tentang Pengetahuan-yang-fictive

http://arsuka.wordpress.com/2008/09/24/waktu-imajiner/#more-891
27 Agustus 2010
Mencari Agama Merengkuh Sains
http://arsuka.wordpress.com/2008/09/23/merengkuh-sains/#more-873
19 Agustus 2010
Heilende Erinnerungen
19 Agustus 2010
Kebenaran dan Kesalahan
Majalah Azzikra, edisi Maret 2006
19 Agustus 2010
Tembang Hidup “Media Baru”
http://arsuka.wordpress.com/2008/09/09/tembang-hidup-media-baru/#more-5
13 Agustus 2008
Mendorong Partai Islam ke Tengah
Media Indonesia, Minggu, 27 Juli 2008
12 November 2007
Bylaws Open to Political Hijacking
The Straits Times, 2 April 2007
12 November 2007
The Growing Discrimination Against Minorities in Malaysia
The Jakarta Post, 08 July 2007
12 November 2007
Salman Rushdie dan Citra Islam
Media Indonesia, 26 Juni 2007
12 November 2007
Fatwa dan Kekerasan Terhadap Ahmadiyah
sumber: Jawa Pos, 12 March 2007
PROMOSI

Yahoo Messenger: perpustakaan_freedom