Diaspora Indonesia
Jan 02

Diaspora Indonesia

230155_andi-mallarangeng_663_382

Kita harus mengubah cara pandang pada warga Indonesia di luar negeri.

Pengantar Redaksi:

Sejak berada dalam tahanan KPK, Andi Mallarangeng punya lebih banyak waktu luang. Sambil menunggu pengadilan, ia mencoba memanfaatkan waktunya secara produktif dengan membaca dan menulis. Aturan KPK tak membolehkan penggunaan laptop, iPad dan semacamnya oleh para tahanan. Andi menulis artikel ini dengan tulisan tangan, dan kemudian disalin kembali oleh Redaksi VIVAnews agar bisa dinikmati oleh pembaca. Andi berusaha menulis di rubrik “Analisis” sekali seminggu.

----

Tahukah anda produk dengan merek Indonesia yang paling terkenal di negara-negara Arab? Jawabnya adalah Indomie. Ia telah mendominasi pasar mie instan di wilayah tersebut, terutama di Arab Saudi.

Bagaimana ceritanya? Tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang umumnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan pengasuh anak tidak bisa hidup tanpa menyantap Indomie dari waktu ke waktu. Rupanya anak-anak Arab yang mereka asuh ikut mencoba dan suka dengan mie instan tersebut. Kesukaan ini mereka bawa hingga dewasa dan berkeluarga. Setelah sekian lama, semua ini membentuk siklus baru keluarga Arab yang menjadi penggemar setia Indomie.

Ada lagi produk lainnya yang juga tidak kurang terkenal, yaitu ban mobil Gadjah Tunggal (GT). Ceritanya sederhana. Dari 2 juta tenaga kerja kita di sana, cukup banyak di antaranya yang menjadi supir. Ketika harus mengganti ban, mereka biasanya merekomendasikan kepada majikan mereka agar menggunakan ban GT. Ban ini sudah mereka kenal dan sering mereka gunakan di Indonesia.

Alhasil, kalau anda menumpang mobil di negara-negara Arab, besar kemungkinan bannya adalah produk Indonesia. Iklan ban GT juga akan sering anda lihat di sudut-sudut jalan utama.

Kedua cerita tersebut membuktikan sebuah hal sederhana tapi penting. Warga kita di luar negeri, yang sering disebut sebagai diaspora Indonesia, ternyata bisa menjadi gateway bagi produk-produk Indonesia.

Jumlah diaspora ini cukup besar. Malah di beberapa negara merupakan komunitas warga asing terbesar di negara tersebut. Di Malaysia jumlahnya mencapai sekitar 2 juta orang, atau hampir 10 persen dari jumlah penduduk negeri Jiran ini. Di Brunei Darussalam jumlahnya sekitar 60 ribu orang, sementara total penduduk negeri ini “hanya” 400 ribu orang. Di Hongkong angkanya sekitar 150 ribu orang, kurang lebih sama dengan jumlah yang ada di Taiwan.

Walaupun sangat potensial, kita sebenarnya agak terlambat membangun jaringan diaspora Indonesia. Bandingkan misalnya dengan diaspora bangsa China. Praktis di hampir semua kota besar di dunia ada restoran China dan China Town, yang menjadi salah satu pintu masuk bagi berbagai produk dari China. Bandingkan juga dengan Little India, yaitu daerah komunitas India yang tersebar di berbagai negara, terutama di negara-negara persemakmuran Inggris. Begitu juga dengan jaringan toko-toko Korea dan restorannya yang menyebar ke seluruh dunia.

Dari Asia Tenggara jaringan restoran Thailand juga mulai mendunia. Demikian pula toko dan restoran Vietnam. (Saya pernah diberi diskon besar pada waktu makan mie Vietnam di Washington DC, ketika pemiliknya tahu bahwa saya dari Indonesia – sang pemilik ini rupanya pernah tinggal sebagai pengungsi di  Pulau Galang.)

Kalau negara lain bisa, kenapa kita tidak? Kita perlu orang seperti Firdaus Bustaman dan Ibu Dewi yang membuka Warung Pojok yang menjual makanan dan produk Indonesia di London. Kita butuh pengusaha seperti Mahmudi Fukumoto, warga Indonesia yang menikah dengan wanita Jepang dan membuka biro perjalanan untuk mempromosikan pariwisata Indonesia di negeri Sakura.

Begitu banyak yang bisa dilakukan. Toko batik, toko kerajinan, agen pariwisata, toko barang-barang kelontong. Bahkan kita perlu cabang-cabang kecil dari perusahaan besar di Indonesia yang menjadi pintu masuk bagi kaum pekerja profesional kita untuk bekerja dan membangun jaringan diaspora Indonesia. Semua ini, pada saatnya nanti, bisa memicu munculnya lingkungan komunitas Indonesia, Indonesian Town atau Little Indonesia, di kota-kota besar di seluruh dunia.

Dampaknya pasti tidak kecil. Sekarang saja, uang kiriman dari TKI (remittance) dalam setahun sudah hampir mendekati Rp 100 triliun. Dana sebesar ini sangat membantu negara sedang berkembang seperti kita, apalagi tujuan pengirimannya umumnya adalah keluarga pekerja kita yang tinggal di kampung, desa, atau kota-kota kecil.  

Itulah sebabnya kita harus mengubah cara pandang kita terhadap warga  Indonesia yang berada di luar negeri. Salah satunya: kita tidak perlu meminta seluruh mahasiswa Indonesia untuk pulang setelah studi mereka selesai. Selama ini, dari 10 mahasiswa kita di luar negeri, 9 orang di antaranya akan pulang setelah wisuda. Bandingkan misalnya dengan mahasiswa China, India, atau Korea. Sewaktu studi di AS, saya amati bahwa sekitar separuh atau lebih dari mereka tetap bertahan dan mencari kerja di sana.

Di dunia, tingkat kepulangan mahasiswa Indonesia mungkin salah satu yang tertinggi. Barangkali kita masih berpegang teguh pada prinsip “hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, tetap lebih baik berada di negeri sendiri.”

Semua ini perlu berubah. Mungkin idealnya 3 atau 4 dari 10 mahasiswa kita yang terus tinggal dan berkarya di luar negeri, seperti Presiden Habibie yang mengukir prestasi di Jerman. Peran mahasiswa atau kaum pekerja profesional penting agar diapora Indonesia tidak berkembang hanya dengan mengandalkan pekerjaan manual.

Dengan mengatakan itu, saya tidak ingin mengecilkan peran saudara-saudara kita yang menjadi TKI dengan pekerjaan manual seperti pembantu rumah tangga dan pelayan toko. Hampir semua jaringan imigran di dunia dimulai dengan pekerja manual. Lihat saja imigran Irlandia dan Italia di AS. Generasi pertama mereka banyak yang menjadi petani, supir, atau pekerja konstruksi. Setelah itu, anak dan cucu mereka menjadi bankir, pengacara, dosen, bahkan politisi dan pejabat tinggi.

Kalau transformasi itu juga bisa terjadi pada diaspora Indonesia, maka pengaruhnya akan sangat positif bagi langkah kita ke depan. Pernah dengar istilah “Lobi Yahudi”? Istilah ini kedengarannya agak seram dan kadang penjelasannya sering dibesar-besarkan. Tapi ia juga sebuah fakta: tokoh-tokoh masyarakat AS keturunan Yahudi, dari pengusaha, artis, akademisi, hingga politisi, sering merasa terpanggil untuk membela kepentingan Israel. Tidak semua, tentu saja. Tapi walaupun kecil, pengaruhnya lumayan terasa.

Bayangkan jika kita juga mempunyai komunitas diaspora Indonesia di luar negeri yang sudah cukup mapan. Kita tidak perlu menamakannya “lobi Indonesia.” Yang penting, kalau memiliki keahlian dan pengaruh, serta tetap mencintai Indonesia, maka mungkin peran mereka bahkan bisa lebih efektif ketimbang peran yang dilakukan oleh kaum diplomat kita.

Singkatnya, sudah saatnya Indonesia berpikir dan bersikap sebagai salah satu bangsa yang besar di dunia. Kita harus siap menjadi pemenang dalam era globalisasi. Untuk itu, kita perlu menyiapkan strategi defensif, yaitu menjadi tuan di rumah sendiri. Industri dalam negeri diperkuat, begitu juga dengan ketahanan pangan dan energi domestik,  serta banyak lagi yang lainnya.

Tapi strategi semacam ini pasti tidak cukup. Ia harus dibarengi dengan strategi ofensif. Kalau mau menang dalam kompetisi global, seperti dalam pertandingan sepakbola, tidak cukup jika kita hanya menjaga gawang sendiri. Kita harus menyerang. Bahkan bisa dikatakan, pertahanan terbaik adalah penyerangan yang tajam dan efektif.

Di situlah terletak salah satu peran paling strategis diaspora Indonesia. Seperti kelompok pencari jejak dalam cerita suku Apache, mereka bisa membuka jalan, mendeteksi kemungkinan, serta membaca arah angin agar perjalanan kita menjadi lebih cepat dan lebih terarah. 

Semua itu mengingatkan saya pada Ibu Onny Barber, asal Bandung, yang selalu siap menampung mahasiswa-mahasiswa Indonesia di sekitar Chicago yang rindu pada makanan Indonesia. Saya juga teringat pada keluarga-keluarga Indonesia di kota kecil Kristianstad yang membawa soto ayam untuk kaum pemuda kita yang sedang mengikuti Jambore Pramuka Dunia di Swedia pada tahun 2011. Saya teringat warung bakso Si Doel di Mekah yang menjadi posko informasi jamaah umrah dan haji Indonesia, serta pada suster Maria, asal Flores, yang memberi pelayanan rohani di Meksiko.

Mereka adalah diaspora Indonesia yang menjadi ujung tombak kita di era globalisasi ini.

Selamat tahun baru. Semoga hari esok lebih cerah buat kita semua. Salam hangat.


1 Januari 2014

Andi Mallarangeng adalah doktor ilmu politik lulusan Northern Illinois University, DeKalb, Illinois, AS.


Sumber: http://analisis.news.viva.co.id/news/read/470324-diaspora-indonesia

 

Baca juga kolom Andi Mallarangeng lainnya:

Inverno, Neraka di Bumi. Betulkah?

Virus Presiden Menular

Desaku yang Kucinta: Antara Tradisi dan Demokrasi

Konsep “Dewasa” Ternyata Agak Rumit

Sistem Kepartaian Kita, di Jalan yang Benar?

Politik yang Biasa-biasa Saja

McDonald dan Coto Makassar: Pilihan Otonomi Daerah

Nobel Ekonomi, Pasar Politik

Konsekuensi Bentuk Negara: Krisis Eropa, AS dan Kita

 

Author: Wahyu
Print PDF

Dengarkan

Freedom Audio

Kumpulan rekaman
audio dan diskusi Freedom Institute

BUKA PODCAST FREEDOM >>

Freedom Institute

Surat Berkala

Terima undangan dan berita terbaru Freedom Institute  

DAFTAR SURAT BERKALA >>

Baca

Buku Freedom

Temukan koleksi buku terbaru perpustakaan Freedom Institute

Cari disini >>

©2012 FREEDOM INSTITUTE. All rights reserved.

Google+