Raja, Gereja. Cinta
Feb 20

Raja, Gereja. Cinta

230155_andi-mallarangeng_663_382

Riwayat Inggris dan transformasi dunia.

Pengantar Redaksi:

Sejak berada dalam tahanan KPK, Andi Mallarangeng punya lebih banyak waktu luang. Sambil menunggu pengadilan, ia mencoba memanfaatkan waktunya secara produktif dengan membaca dan menulis. Aturan KPK tak membolehkan penggunaan laptop, iPad dan semacamnya oleh para tahanan. Andi menulis artikel ini dengan tulisan tangan, dan kemudian disalin kembali oleh Redaksi VIVAnews agar bisa dinikmati oleh pembaca. Andi berusaha menulis di rubrik “Analisis” sekali seminggu.

----

Apa yang terjadi jika raja jatuh cinta tetapi tak bisa kawin dengan pujaan hatinya? Cinta yang merindu. Pujaan hati yang menanti…

Kalau orang biasa, solusinya mungkin bikin puisi atau merenung di tepi pantai. Tapi kalau Raja Inggris, apalagi raja yang sangat berkuasa, penerus Dinasti Tudor, maka yang terjadi adalah prahara. Dan tidak main-main: Eropa dan dunia pun ikut berubah di tengah prahara ini.

Itulah kisah Henry VIII, Raja Inggris yang bertahta lebih tiga dekade (1509-1547) dalam era peralihan besar dari Abad Pertengahan menuju Abad Pencerahan. Menguasai tiga bahasa, penulis traktat pemerintahan, pencinta teater dan piawai memainkan berbagai instrumen musik, Henry adalah raja pertama di Inggris yang layak disebut sebagai Manusia Renaisans.

Selain itu, sebagai penguasa, ia merupakan pengejawantahan zamannya, sebuah periode di Eropa yang diwarnai oleh kebangkitan negara sebagai unit sentral pemerintahan. Dari segi pemikiran politik, periode itu adalah zamannya pemikiran raison d’etat, sebuah kurun sejarah di mana kaum filsuf merumuskan justifikasi konseptual bagi lahirnya negara modern. Tokoh terdepan dari kaum pemikir seperti ini tidak lain adalah Niccolo Machiavelli, penulis dari Florensia, Italia, yang karya-karyanya, terutama Il Principe (“Sang Penguasa”), masih dibaca sampai hari ini.

Henry juga memiliki sisi lain. Mungkin karena ia naik tahta pada usia yang sangat belia (18 tahun), maka riwayat pemerintahannya bertaburan dan bersinggungan dengan sejumlah wanita. Ada elemen dalam diri Henry yang sangat peka pada romantika percintaan serta pada keindahan kaum hawa.

Cerita semacam ini barangkali sangat umum ditemui dalam kisah tentang raja dan kerajaan di banyak negeri lainnya. Tetapi pada Henry, cerita tersebut bukanlah cerita pelengkap saja, namun merupakan jalinan utama peristiwa yang menjadi motivasi tindakannya, dengan akibat yang mengubah sejarah.

Dengan semua itu, tidak heran jika cerita tentangnya menjadi sumber ilham bagi banyak penulis dan novelis, termasuk kaum sastrawan sekelas Shakespeare.

Seolah mata air yang yang tak pernah kering, beberapa tahun lalu cerita tentang tokoh ini diangkat lagi dalam sebuah novel sejarah oleh penulis Inggris, Hillary Mantel (Wolf Hall, 2009) – novel ini memperoleh penghargaan sastra bergengsi pada tahun yang sama, Man Booker Prize. Dengan gaya bercerita yang lebih kontemporer dan mengasyikkan, ia menghidupkan kembali cinta, kehidupan, riwayat serta dilema yang dihadapi oleh raja yang layak disebut sebagai the king of kings itu.

Menariknya lagi, dengan cara bertutur yang mengalir, Hillary Mantel memberi perspektif baru pada historiografi Inggris, bukan terutama pada peranan Henry, tetapi pada peranan Thomas Cromwell, tangan kanan Sang Raja yang mengatur pemerintahan sehari-hari. Sekarang posisi Cromwell bisa disebut sebagai Perdana Menteri, tetapi pada waktu itu jabatan resminya adalah Lord Chancellor. Kalau senang pada cerita mafia, kira-kira peran Cromwell bagi Henry adalah sebagai seorang consigliere, orang kepercayaan yang menerjemahkan semua kehendak Il Capo dengan cara apapun. 

Lewat tangan dan nasehat Cromwell, dilema dan riwayat percintaan Henry menjadi rangkaian peristiwa yang berdampak historis.

Cinta dan Perubahan

Alkisah, Henry VIII yang menikah dengan Catherine de Aragon, putri Raja Spanyol, tidak mempunyai anak laki-laki. Perkawinan mereka hanya dikarunia seorang putri, Mary, yang fisiknya lemah dan dianggap tidak akan mampu memerintah Inggris dan mempertahankan kesatuan kerajaan yang masih rapuh.

Henry menginginkan anak laki-laki sebagai penerus. Pada saat yang sama, hatinya telah tertambat pada Anne Boleyn, wanita muda dan menawan, cerdas, putri seorang diplomat-aristokrat Inggris, serta dalam mengenyam pendidikan dianggap jauh melampaui zamannya. Cinta Henry berbalas: keduanya terlibat dalam romantika yang bergelora, dan akhirnya memutuskan untuk kawin. Untuk itu, Henry terlebih dahulu harus menceraikan Catherine de Aragon. 

Persoalannya adalah, dalam doktrin Gereja Katolik yang waktu itu menjadi agama negara, perceraian tidak dimungkinkan. Hanya Sri Paus di Roma, the citadel of Christendom, yang dapat memberikan pembatalan perkawinan, annulment. Atas pengaruh Raja Spanyol, ayah Catherine, pembatalan perkawinan yang diminta Henry VIII tidak kunjung disetujui oleh Sri Paus.

Pengaruh Sri Paus di Eropa tidak main-main. Tokoh yang bertahta waktu itu adalah Paus Klemen VII. Dengan predikat sebagai The Holy See, ia mewarisi sebuah struktur organisasi lintas-negara yang jangkauannya paling luas, the universal church, sebuah evolusi lebih lanjut dari Pax Romana, plus sebuah doktrin religius yang sistematis dan mengakar. Selama berabad-abad setelah runtuhnya Emperium Romawi di abad ke-5, praktis kekuasaan politik dan religius Eropa dalam banyak hal berpusat di tangan Tahta Suci Roma, khususnya dalam hal pengesahan legitimasi raja.

Karena itu, Henry berhadapan dengan sebuah jalan buntu. Kalau dia melawan keputusan Sri Paus, ancamannya tidak main-main: ekskomunikasi, yang pada ujungnya menghilangkan legitimasi Henry sebagai Raja Inggris. Hal ini tentu membuka kemungkinan bagi pesaing-pesaing Henry dari keluarga aristokrat lain untuk merebut kekuasaan. 

Di sisi lain, cinta Henry pada Anne Boleyn sudah tak terbendung. Ia sudah tidak mungkin kembali lagi ke Catherine de Aragon. Tetapi resiko besar menanti jika ia  maju terus mengikuti kehendak hatinya

Apa yang harus dilakukannya? Krisis rumah tangga telah menjelma menjadi krisis negara. Cinta telah berjalin dengan politik pada tingkat yang tertinggi: the survival of the state and power.

Dalam novel Hillary Mantel yang memukau ini, di situlah terletak peran utama Thomas Cromwell. Lahir dari keluarga sederhana, seorang pekerja keras yang ditempa oleh hidup yang juga keras, Cromwell tumbuh dan berkembang sebagai a scholar of law dalam bimbingan Thomas Wolsey, kardinal terkemuka pada zaman itu, yang juga pernah menjadi Lord Chancellor dalam tahun-tahun pertama kekuasaan Henry. Cromwell menggantikan posisi mentornya, setelah sebelumnya Thomas Moore, seorang penulis risalah politik (Utopia) yang tersohor, menjalankan peran yang sama untuk beberapa tahun.

Terhadap impasse yang dialami Henry, Thomas Cromwell mendesain sebuah cara yang legal, tetapi sepenuhnya dengan pikiran baru. Ia menganjurkan agar Henry melepaskan diri dari otoritas Gereja Katolik Roma. Baginya, semua pastor dan seluruh gembalanya adalah rakyat Kerajaan Inggeris dan loyalitasnya hanya pada Raja, bukan pada Sri Paus yang merupakan orang asing. Putusan tertinggi hukum di Inggris berada di London, bukan di Roma.

Pikiran baru ini kedengarannya sederhana, namun dalam konteks zamannya  ia merupakan ide yang radikal, karena dua hal. Pertama, ia menjadi dasar pemisahan antara Gereja Katolik dan Gereja Inggris, yang juga sering disebut Gereja Anglikan.  Henry kemudian diangkat sebagai Kepala Gereja Anglikan, dan dengan struktur otoritas baru ini ia menyiapkan fondasi yang memungkinkan terjadinya sebuah proses besar di Inggris, yaitu reformasi agama, religious reformation, yang mengiringi dan memperkuat proses yang sama yang terjadi di Jerman dan banyak negara Eropa lainnya akibat merebaknya ajaran Martin Luther dan tokoh protestan lainnya. Secara bersama-sama, dibantu oleh sebuah penemuan baru yang revolusioner, yaitu mesin cetak, mereka melemahkan pengaruh Gereja Katolik Roma dan membentuk perimbangan religius baru di Eropa.  

Aspek kedua, dan tidak kurang pentingnya, merupakan hal yang tak terduga sebelumnya. Ide Cromwell melahirkan sebuah pertanyaan baru: jika legitimasi kekuasaan raja tidak lagi datang dari Sri Paus, lalu dari mana? Kekuasaan raja bersifat divine, ilahi, dan dalam soal keilahian, Sri Paus adalah perwakilan Tuhan di bumi, penerus otoritas ilahi Santo Petrus. Karena itulah, legitimasi tertinggi seorang raja secara logis berasal dari Tahta Suci di Roma. Sekarang, jika peran Roma sudah dipangkas, lalu apa atau siapa yang menggantikannya? Masihkah kekuasaan raja bersifat ilahiah?

Terhadap itu semua, jawaban Cromwell, Sang Penasehat Politik, adalah jawaban yang penuh hormat, jelas serta tegas: “from the parliament, Sir.” Legitimasi kekuasaan tidak lagi berasal dari Tuhan, apalagi dari perwakilannya di bumi, tetapi dari perwakilan manusia, yang secara kelembagaan disebut dewan perwakilan, the parliament. Dengan jawaban seperti ini, Cromwell memberi bentuk kelembagaan, bukan hanya memfokuskan diri pada sosok seorang raja, dari apa yang secara filosofis telah dirumuskan oleh Machiavelli dan tokoh pemikir raison d’etat lainnya di zaman itu.     

Kalau ada daftar kalimat tersingkat tapi paling memiliki dampak paling radikal sepanjang sejarah, barangkali ungkapan Cromwell seperti itu layak masuk dalam top list. Jawaban ini bukan saja menutup sebuah periode panjang dalam sejarah, tetapi juga membuka sebuah jalan baru dalam politik dan dunia kekuasaan yang sampai hari ini masih terus menjadi cara pengelolaan pemerintahan modern.

Bagi Inggris, jalan baru yang diformulasikan Cromwell tersebut bukan sesuatu yang muskil. Sejak Magna Carta di abad ke-13, perwakilan kaum aristokrat telah diberi kewenangan khusus yang membatasi kekuasaan raja, khususnya dalam soal pajak, yang dikenal dengan sebuah ungkapan no taxation without representation.  Dengan ide Cromwell, tradisi panjang ini diberi kewenangan baru lagi yang lebih fundamental, yaitu menentukan dan memberi legitimasi pada raja dan kerajaan.

Jadi seperti botol yang diberi penutup yang regal: parlemen Inggris kemudian berkembang menjadi sebuah institusi vital yang mengantarkan Kerajaan Inggris memasuki era pemerintahan modern, yang dicirikan oleh perimbangan kekuasaan Raja (eksekutif) dan parlemen (legislatif).

Dalam prosesnya kemudian, kewenangan parlemen inilah yang dimodifikasi dan diperluas, dikembangkan cakupannya menjadi perwakilan rakyat, bukan hanya perwakilan kaum aristokrat. Ia menjadi lembaga terdepan yang menjadi contoh bagi dunia dalam transformasi besar menjadi negara demokrasi. Dalam posisi baru ini, parlemen Inggris telah menghasilkan begitu banyak tokoh politik piawai dan aktor-aktor sejarah yang sampai sekarang masih terus menjadi sumber inspirasi, mulai dari Edmund Burke, William Gladstone, Benjamin Disraeli, Winston Churchill, hingga Margaret Thatcher dan Tony Blair.   

The end of love: tragedi dan era baru

Kembali ke Henry dan Anne Boleyn, cinta mereka pada akhirnya sampai ke pelaminan dan dirayakan penuh suka cita oleh rakyat. Thomas Cromwell telah memberikan justifikasi yang diterima oleh pentolan kaum aristokrat dan para pemuka agama. Anne kemudian diangkat sebagai Ratu Inggris, mendampingi Raja Henry VIII. Dari perkawinan mereka lahir seorang putri, Elizabeth.

Happy ending? Riwayat percintaan yang berakhir dengan kehidupan yang happily ever after?

Sayangnya tidak. Bahkan jauh dari itu. Perkawinan mereka hanya berusia tiga tahun dan berakhir dengan sangat tragis. Entah karena curiga bahwa Anne berselingkuh, entah karena hasutan dan intrik-intrik istana yang seolah tanpa henti, entah karena kepribadian Henry yang kemudian berubah menjadi semakin kemaruk oleh wanita dan kekuasaan, Anne kemudian diadili dan dihukum pancung di Tower of London, 19 Mei 1536. Ia dikabarkan menyambut kematiannya tanpa kehilangan keagungan, grace, dan tanpa meninggalkan sifatnya yang periang (kepada seorang saksi, ia sempat berkata, sambil tersenyum, “oh, but I only have a little neck”).

Riwayat dan tragedi Anne Boleyn menjadi cerita tersendiri di Inggris, yang juga telah menjadi sumber penulisan novel dan buku sejarah yang tak pernah kering. Bagi yang tertarik dengan jalinan tema cinta,  tragedi, dan politik, barangkali cerita ini adalah yang salah satu yang paling menarik dari begitu banyak cerita dalam tema yang sama.

Adapun mengenai Henry, setelah Anne, kisah dan petualangan cintanya masih belum berhenti. Di tengah langkah-langkahnya dalam mengatur dan menyesuaikan keseimbangan the great powers di Eropa, terutama segitiga hubungan Inggris, Spanyol, dan Prancis, ia masih sempat jatuh hati dan mengawini empat wanita lagi, sebelum pada akhirnya wafat pada usia 55 tahun, kabarnya akibat obesitas yang berlebihan, pada 28 Januari 1547. 

Selain perubahan besar tata kelembagaan, praktek agama, dan metode pemerintahan Kerajaan Inggris, warisan terbesar Henry (dan Anne Boleyn) pada negerinya barangkali adalah suatu hal yang tak mereka duga sebelumnya: Elizabeth, putri mereka semata wayang.

Pada usia 25 tahun, Elizabeth bertahta, dengan gelar Elizabeth I. Selama hampir setengah abad kekuasaannya (1558-1603), Inggris tumbuh dan berkembang pesat, melahirkan tokoh-tokoh ilmu pengetahuan (Francis Bacon), sastrawan (Shakespeare), serta explorer dan pelaut ulung (Francis Drake). 

Elizabeth lah yang meletakkan dasar bagi Inggris untuk menjadi dinamo dunia sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, menjadi empirium yang menguasai lautan luas. Dengan kekuatan yang bersandar pada ilmu pengetahuan, perdagangan, industri, dan militer, terutama kekuatan maritim, Inggris menjadi tulang punggung Britania Raya, menjadi negeri pertama yang memasuki era modern, serta menjadi empirium pertama dalam sejarah yang mampu menguasai dunia dari ujung ke ujung. Semboyan mereka waktu itu bukan sekadar ungkapan omong kosong: the sun never sets on the British Empire.

Elizabeth, berbeda dengan kedua orang tuanya, tidak memiliki riwayat cinta yang terlalu menarik atau terlibat dalam romansa yang memabukkan. Sampai akhir hayatnya, ia tidak pernah menikah. My love is for England, demikian ia dikabarkan pernah berkata. Ia dikenal sebagai The Virgin Queen, dan sampai sekarang dianggap sebagai salah satu penguasa yang paling penting dalam sejarah negrinya.

Postcript: kembalinya cinta

Pada zaman modern, khususnya di abad ke-20, perimbangan kekuasaan raja, parlemen, dan gereja sudah berubah sama sekali. Raja Inggris masih menjadi pimpinan Gereja Anglikan, tetapi kedua institusi ini hanya memiliki kekuasaan simbolik. Parlemen adalah lembaga tempat kekuasaan pemerintahan berpusat, bersama institusi politik modern lainnya, seperti lembaga yudikatif, partai politik, media, dan sebagainya.

Walaupun semua itu telah berubah, cerita tentang raja dan cinta akan selalu menarik, walaupun saat ini ia tidak lagi memiliki konsekuensi transformatif apapun dalam struktur pemerintahan, paling-paling suksesi tahta dan pergantian sosok raja (atau ratu).

Hal ini misalnya terjadi pada Raja Edward VIII (paman Ratu Elizabeth II yang saat ini bertahta). Edward jatuh cinta pada seorang wanita biasa, selebritas dan janda dari Amerika Serikat, Wallis Simpson.

Walaupun raja dan ratu pada zaman itu tidak lagi berkuasa secara riil, sebagaimana Henry VIII dan Elizabeth I, urusan cinta dan kelakuan raja masih dibatasi oleh berbagai aturan ketat. Adalah hal yang tabu bagi raja untuk kawin dengan wanita biasa, dan karenanya Edward VIII harus memilih salah satu: cinta atau tahta.

Edward memilih cinta, melepaskan jubah kerajaan pada Desember 1936, dan kemudian hidup sebagai orang kebanyakan. Bersama Wallis Simpson, Edward lived happily ever after sampai akhir hayatnya.

Penggantinya, Elizabeth II, telah berkuasa setengah abad. Kehidupan cintanya adalah non-event, terlalu biasa untuk jadi bahan cerita.

Tapi tidak demikian dengan putra Elizabeth II, Charles, Sang Putra Mahkota, the Prince of Wales. Ia jatuh hati pada Diana Spencer, seorang wanita aristokrat yang cantik jelita, cerdas, dengan senyum menawan. Seolah mengulang sejarah, riwayat percintaan ini juga berakhir tragis: perkawinan agung, cerita perselingkuhan, perceraian, dan kemudian kematian dalam usia muda.

Lady Di, begitu ia dikenal publik, dalam masa hidupnya yang singkat sebagai The Princess of Wales, muncul sebagai selebritas dunia, dipuja oleh semua orang dan menjadi simbol kerajaan Inggris yang dicintai dan paling penuh warna. Setelah perceraiannya dengan Charles, kematiannya akibat tabrakan mobil di Prancis pada usia 36 tahun (31 Agustus 1997), diiringi oleh tangis dan air mata bukan hanya di London dan kota-kota besar di Inggris, tetapi juga di dunia, dari Mumbai, Hongkong, sampai New York. Diana seolah mengembalikan kejayaan Inggris yang telah mulai pudar sejak awal abad ke-20: sebuah kejayaan dalam bentuk lain, a symbolic glory, beauty and the spledor of regality.

Putra sulung Charles dan Diana, Pangeran William, Duke of Cambridge, kini telah berusia 32 tahun. Kita belum tahu kapan pangeran muda ini akan bertahta. Ia jatuh cinta pada wanita biasa, Kate Middleton, dan dua tahun lalu telah mengikatkan diri dalam bahtera perkawinan. Tidak ada konflik, darah, dan pertarungan kekuatan. Tidak ada pergesekan kekuasaan yang diinspirasikan oleh high philosophy dan ide-ide besar. Tidak ada resiko jatuh atau bangunnya sebuah struktur pemerintahan.

Yang ada adalah drama liputan media dan fenomena selebritas modern yang riuh rendah tentang percintaan dan pernikahan kedua sejoli muda tersebut.

Dunia sudah jauh berbeda. Bagi William dan Kate, kita berharap bahwa cinta dan pertautan hati mereka akan langgeng dan abadi dalam kemesraan. God save the (future) King and Queen!


20 Februari 2014


Andi Mallarangeng adalah doktor ilmu politik lulusan Northern Illinois University, DeKalb, Illinois, AS.

Sumber: http://analisis.news.viva.co.id/news/read/482736-raja--gereja--cinta

Baca juga kolom Andi Mallarangeng lainnya:

Cintaku Jauh di Pulau

Orang Jawa Naik Kelas

Believe It or Not. Uang Masa Depan, Bitcoin?

Surga di Bumi, Mungkinkah?

Presiden Juga Manusia

Thailand: Ada Apa Denganmu?

Diaspora Indonesia

Inverno, Neraka di Bumi. Betulkah?

Virus Presiden Menular

Desaku yang Kucinta: Antara Tradisi dan Demokrasi

Konsep “Dewasa” Ternyata Agak Rumit

Sistem Kepartaian Kita, di Jalan yang Benar?

Politik yang Biasa-biasa Saja

McDonald dan Coto Makassar: Pilihan Otonomi Daerah

Nobel Ekonomi, Pasar Politik

Konsekuensi Bentuk Negara: Krisis Eropa, AS dan Kita

 

Author: Wahyu
Print PDF

Dengarkan

Freedom Audio

Kumpulan rekaman
audio dan diskusi Freedom Institute

BUKA PODCAST FREEDOM >>

Freedom Institute

Surat Berkala

Terima undangan dan berita terbaru Freedom Institute  

DAFTAR SURAT BERKALA >>

Baca

Buku Freedom

Temukan koleksi buku terbaru perpustakaan Freedom Institute

Cari disini >>

©2012 FREEDOM INSTITUTE. All rights reserved.

Google+