Pelatihan Wartawan
Pelatihan Wartawan
Apr 08

Pelatihan Wartawan ke-10 - Sesi IV: Parpol Dan Konsolidasi Demokrasi

TEMA: “PARTAI POLITIK, PEMILU, DAN KONSOLIDASI DEMOKRASI”

(Bukit Talita, 27 Februari - 1 Maret 2009)

Sesi ini dimulai dengan uraian Rizal Mallarangeng yang menerangkan perkembangan politik Indonesia mutakhir. Uraian terutama ditekankan pada aspek gagasan dan ideologi yang diusung oleh partai-partai politik di Indonesia.

Data terbaru yang diperoleh LSI menunjukkan bahwa Partai Demokrat sekarang memiliki potensi terkuat untuk menjadi partai nomer satu. PDIP masih stagnan, berada di posisi kedua. Dan di urutan ketiga Golkar. Semua partai besar ini adalah partai-partai yang sekular.

Print PDF
Mar 05

Notes from the Freedom Institute’s 10th Refresher Course for Journalists

"Political Parties, General Elections, and the Consolidation of Democracy”

The forum began with a warm introduction session. Instead of introducing themselves, participants (25 professional and student journalists) were asked to interview a fellow participant in pairs of two and then introduced their partner to the forum.

A series of presentations and discussions followed. Speakers addressed the big questions that organizers presented to them: how the map of Indonesian political parties has changed over the decades, what that change means, and where to put the role of ideas in the whole scheme of things.

 

Print PDF
Mar 03

Pelatihan Wartawan ke-10 -Sesi I: Ideologi, Konstituten, dan Program Parpol

PELATIHAN WARTAWAN KE-10

TEMA: “PARTAI POLITIK, PEMILU, DAN KONSOLIDASI DEMOKRASI”
(Bukit Talita, 27 Februari - 1 Maret 2009)

Dalam sesi ini, Dodi mengajukan beberapa pertanyaan dasar yang jawabannya merupakan pokok uraian yang ia sampaikan: Apa yang dikejar oleh partai? Apa kepentingan yang diperjuangkan kandidat dan partai? Apa pertentangan yang mendasari persaingan partai? Apakah kelas, kecenderungan keagamaan (religius-sekular), atau kedaerahan (pusat-daerah atau nasional-lokal)? Apakah memang ideologi partai memainkan peran yang penting dalam persaingan partai? Bagaimana persaingan partai terjadi di arena pemilihan, legislatif, dan pemerintahan (eksekutif)?

Print PDF
May 22

Tanggal 20-22 April 2007 di Lido Lakes Resort Hotel, Sukabumi, Freedom Institute bekerjasama dengan Friederich Naumann Stiftung kembali menyelenggarakan Kursus Penyegaran Wartawan VII dengan tema “Politik-Ekonomi Pengentasan Kemiskinan di Indonesia”.

Hari pertama, Dr. Rizal Mallarangeng membuka kegiatan sekaligus menyampaikan materi “Ekonomi Politik Kemiskinan”. Dalam materinya, Rizal menyampaikan dua ide sederhana mengenai kemiskinan yaitu, (1) kemiskinan hanya dapat diatasi jika perekonomian nasional secara keseluruhan tumbuh dan berkembang maju, dari tahap pertanian menuju ke tahap industri dan jasa, (2) untuk melakukannya, kebijakan yang terbaik adalah dengan membuka diri ke dunia luar, menerapkan market-friendly policies.

Hari kedua, Dr. Vivi Alatas dari World Bank membahas profil kemiskinan di Indonesia sekaligus 9 usulan strategi pengentasan kemiskinan. Diantaranya adalah revitalisasi pertanian dan melaksanakan kebijakan beras yang menjamin kestabilan harga berikut tujuh usulan lainnya. Adapun pembahasan kebijakan beras dikupas lebih dalam oleh Dr. Neil McCulloh, Director for Economics Program The Asian Foundation Jakarta. Neil lebih jauh membahas “perlukah Indonesia melakukan impor beras”. Masih di hari kedua, Dr. Sudarno Sumanto, Director of The Smeru Research Institute membahas konsep kemiskinan, definisi, penyebab dan pengukurannya. Dengan materi-materi yang saling berkaitan, Dr. M. Ikhsan juga menyampaikan beberapa strategi pengentasan kemiskinan. Menurutnya, industri menjadi salah satu solusi alternatif pengentasan kemiskinan. Kebanyakan negara maju adalah bukan negara agraris melainkan negara industri terlepas dari negara maju yang memproteksi pertaniannya. Proteksi terhadap pertanian seperti yang dilakukan Perancis bukan karena negara itu negara agraris melainkan karena sektor pertaniannya yang hampir punah, kata M. Ikhsan.

Di hari ketiga, Dr. Chatib Basri membahas polemik antara William Easterly dan Jeffrey D. Sachs dalam memandang upaya pengentasan kemiskinan. Sachs meyakini bahwa “extreme poverty” dapat habis pada tahun 2025 dengan beberapa solusi yang digagas olehnya. Salah satunya dengan bantuan asing atau foreign aid. Sedangkan Easterly tidak yakin dengan gagasan Sachs. Menurut Easterly, kemiskinan tidak bisa dan tidak akan bisa diatasi dengan bantuan asing. Orang hanya cenderung melakukan sesuatu atau berubah jika ada insentif. Banyak gagasan Sachs dan Easterly lainnya yang bertentangan. Easterly menyebutnya Big Plan vs Piecemeal Reform. Sachs menyebutnya Planner vs Searcher.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini menggunakan model participatory dan kegiatan interaktif lainnya seperti diskusi dan simulasi.

Seperti pada pelatihan-pelatihan sebelumnya, pelatihan lebih mengarah pada views bukan news. Pelatihan tidak dimaksudkan untuk menambah keterampilan dalam bidang jurnalistik, melainkan untuk memperkuat perspektif dan menambah informasi bagi para wartawan dalam bidang politik-ekonomi, yang khususnya berkaitan dengan masalah pengentasan kemiskinan di Indonesia.

BAHAN-BAHAN BACAAN KURSUS PENYEGARAN WARTAWAN VII

Buku

    • 1.Easterly, William (2001), The Elusive Quest for Growth: Economists’ Adventures and Misadventures in the Tropics, The MIT Press Cambridge --- Ch 1 & Conclusion.
      2.Sachs, Jeffrey D. (2005), The End of Poverty: Economic Possibilities for Our Time, The Penguin Press --- Ch 1, 2, 3
      3.World Bank (2006), Making the New Indonesia Work for the Poor , The World Bank Office Jakarta --- Executive Summary
      4.World Bank (2007), Spending for Development: Making the Most of Indonesia’s New Opportunities: Indonesia Public Expenditure Review 2007, The World Bank Office Jakarta --- Executive Summary

Jurnal

    • 1.Basri, M. Chatib & Arianto A. Patunru (2006), Survey of Recent Developments, Bulletin of Indonesian Economics Studies , Vol. 42, No. 3, 2006: 295-319
      2.Timer, C. Peter (2004), The Road to Poor-Poor Growth: The Indonesian Experience in Regional Perspektif, Bulletin of Indonesian Economic Studies, Vol. 40, No. 2, 2004: 177-207.

Media

    • 1.Lancet (2006) Sachs: How to help the poor: piecemeal progress or strategic plans? Easterly: Author’s reply to JD Sachs’ review of The White Man’s Burden
      2.Los Angeles Times (2006)Easterly: The handouts that feed poverty Sachs: Foreign aid skeptics thrive on pessimism
      3.MotherJones.com (2005), The End of Poverty: An Interview with Jeffrey Sachs
      4.The Washington Post (2005) Easterly: A Modest Proposal Sachs: Author’s reply to Easterly’s review of The End of Poverty
      5.The New York Review of Books (2006)Aid: Can It Work? – a book review by Nicholas D. Kristof Sachs: How can aid work – a comment to the review Easterly: “The White’s Man’s Burden’ – a response to Sachs
      6.Wall Street Journal (2006) Easterly: Dismal Science Sachs: Vibrant economies with high taxes and high social welfare spending
Print PDF
May 22

Tanggal 20-22 April 2007 di Lido Lakes Resort Hotel, Sukabumi, Freedom Institute bekerjasama dengan Friederich Naumann Stiftung kembali menyelenggarakan Kursus Penyegaran Wartawan VII dengan tema “Politik-Ekonomi Pengentasan Kemiskinan di Indonesia”.

Hari pertama, Dr. Rizal Mallarangeng membuka kegiatan sekaligus menyampaikan materi “Ekonomi Politik Kemiskinan”. Dalam materinya, Rizal menyampaikan dua ide sederhana mengenai kemiskinan yaitu, (1) kemiskinan hanya dapat diatasi jika perekonomian nasional secara keseluruhan tumbuh dan berkembang maju, dari tahap pertanian menuju ke tahap industri dan jasa, (2) untuk melakukannya, kebijakan yang terbaik adalah dengan membuka diri ke dunia luar, menerapkan market-friendly policies.

Print PDF

Dengarkan

Freedom Audio

Kumpulan rekaman
audio dan diskusi Freedom Institute

BUKA PODCAST FREEDOM >>

Freedom Institute

Surat Berkala

Terima undangan dan berita terbaru Freedom Institute  

DAFTAR SURAT BERKALA >>

Baca

Buku Freedom

Temukan koleksi buku terbaru perpustakaan Freedom Institute

Cari disini >>

©2012 FREEDOM INSTITUTE. All rights reserved.

Google+